Posdaya Menjadi Tujuan KKN Global

Mahasiswa Undip Semarang melaksanakan KKN di Desa Bulu dengan mengadakan kegiatan Posdaya yaitu kegiatan vertikultur (Foto: Istimewa)

Posdaya yang mulai dikembangkan oleh Yayasan Damandiri, umumnya bersama tidak kurang dari 450 Perguruan Tinggi dan Masjid dari seluruh Indonesia.”

Sejak tahun 2006 hingga kini telah menjadi obyek program studi dan kegiatan kuliah kerja nyata (KKN) dari berbagai perguruan tinggi di Tanah Air,  juga dosen dan mahasiswa dari manca negara.

Peristiwa ini mengingatkan kita pada pendekatan program KB yang inovatif ke desa-desa di tahun 1980 dan 1990-an. Setiap tahun puluhan negara mengirim staf senior dan petugas tehnisnya,  langsung ke desa-desa berbaur bersama masyarakat belajar mengelola program,  yang biasanya di kelola di klinik dan rumah sakit.

Peristiwa serupa terulang kembali dewasa ini, seperti dilaporkan oleh Ibu Ir Rika Susanti, salah satu ketua Posdaya yang berhasil dari Bekasi,  sekitar 20 dosen muda dari 20 PT seluruh Indonesia, melalui koordinasi P2SDM-IPB Bogor, yang dikoordinasikan oleh Dr Yannefri Bachtiar, MSi yang tidak kenal lelah, berkunjung ke Posdaya Gunung Jati di Bogor.

Untuk belajar bagaimana masyarakat di pedesaan, bukan di perkotaan, mengelola Posdaya dengan berhasil. Mereka kagum bahwa masyarakat dan keluarga sederhana dengan pendampingan mahasiswa KKN IPB akhirnya bisa berusaha secara mandiri, mengembangkan kegiatan pemberdayaan dan pengentasan kemiskinan menyangkut bidang kesehatan, pendidikan, wirausaha dan lingkungan hidup.

Peristiwa yang sama dikabarkan oleh Ibu Dr Dewi Tri Wahyuni MM dan Ibu Farida Jusri tentang kunjungan Sekretaris Yayasan Damandiri Bapak Firdaus MBA pada kegiatan Tabur Puja di Posdaya binaan Universitas Pancasila,  yang dilakukan bersama Ketua Koperasi Sudara Indra, Dr M Soedarmadi. Mereka menjumpai masyarakat dan keluarga desa yang mampu mengelola kegiatan Tabur Puja, dengan sistem modern untuk kepentingan warga anggota Posdaya di desanya.

Banyak juga laporan lain dari Ibu Dr  Hj Mufidah Ch MAg, seorang aktivis Posdaya berbasis Masjid dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, yang secara khusus mendapat ijin dari Rektor yang baik hati, Prof Dr Mudjia Rahardjo MSi, berkeliling hampir ke seluruh Indonesia membantu UIN/IAIN dari berbagai daerah mempersiapkan mahasiswa melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) membentuk Posdaya bebasis Masjid. Ternyata sangat di gemari oleh para ulama dari berbagai daerah, dalam membantu masyarakat memberdayakan dan mengentaskan kemiskinan warganya.

Perkembangan yang menarik terjadi juga di lingkungan Universitas Airlangga Surabaya, yang mengirimkan mahasiswa dari luar negeri mengikuti kegiatan KKN Posdaya ke desa-desa. Perkembangan itu menarik bagi mahasiswa tetapi masih terbatas,  karena mahasiswa yang bersangkutan kebetulan mengambil kuliah di Unair.

Perkembangan yang lebih baru terjadi di wilayah Jawa Barat, khususnya di Bandung, mahasiswa dari 30 negara mengikuti KKN ke desa-desa bekerja sama dengan beberapa relawan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Barat. Dari puluhan mahasiswa itu, 11 mahasiswa mewakili mahasiswa dari 30 negara itu. Selama satu bulan penuh berbaur dengan anggota Posdaya Plamboyan di Bandung Barat mengikuti segala kegiatannya.

Posdaya Plamboyan adalah salah satu Posdaya terbaik dari seluruh Indonesia. Sehingga para mahasiswa tertegun, melihat masyarakat desa ternyata dengan sentuhan mahasiswa UPI dan dosen pembimbingnya,  dapat bekerja secara mandiri. Kegiatan PAUD oleh bunda Paud di desa itu,  membuat para bunda yang biasanya mengasuh anak-anak balita, ternyata dapat menjadi pengasuh ibu-ibu dan keluarga muda membangun kebersamaan dan menjadi sosok yang mau bekerja cerdas dan keras.

Keluarga muda yang biasanya mengeluarkan uang untuk membayar sekolah PAUD bagi anak-anaknya diajak membentuk Bank Sampah. Keluarga muda rajin memungut sampah yang tersebar di sembarang tempat dan akhirnya tidak perlu harus mengeluarkan uang untuk membayar anaknya yang bersekolah di PAUD. Hasil dari uang tabungan di Bank Sampah lebih dari cukup untuk biaya sekolah anak-anak mereka.

Wakil-wakil mahasiswa dari 30 negara itu ikut serta menyegarkan kegiatan dari anggota Posdaya Plamboyan,  dengan beraneka macam pengolah sampah yang dihimpun dalam Bank Sampah yang mereka kelola. Para mahasiswa yang melakukan persiapan untuk terjun langsung ke lapangan itu,  ada yang telah menyiapkan diri dari negaranya.  Antara lain dari Cina,  Belanda, Thailand, dan beberapa negara ASEAN lainnya, merasa mendapat kesempatan praktek ilmunya rumusan 3R, yang merupakan singkatan dari Reduce, Reuse dan Recycle dalam kegiatan nyata di lapangan.

Mereka merasa kagum bahwa teori yang di negaranya banyak dilakukan di kalangan perguruan tinggi sebagai pelajaran dan cita-cita akademis, ternyata di negara berkembang seperti Indonesia, tanpa teori yang mendalam, telah dilaksanakan oleh rakyat biasa bukan lulusan perguruan tinggi dalam kegiatan nyata di lapangan dan dalam lingkungan yang luas.

Dalam pembicaraan santai dengan dua orang mahasiswa dari Belanda dan Cina di Kantor LPPM UPI, didampingi oleh Ketua LPPM, Prof Dr H Ahman dan Sekretaris LPPM Dr. Yadi Ruyadi, serta beberapa mahasiswa pendamping yang berasal dari UPI, Universitas Padjadjaran dan perguruan tinggi lainnya, merasa senang bahwa para mahasiswa dan masyarakat di desa bisa saling berbaur dan menyatu melaksanakan kegiatan bersama mahasiswa.

Mereka bisa melakukan kegiatan yang dibangku kuliah biasa diperoleh dari para dosen mereka. Mereka mengaku, sebelum terjun ke lapangan, para mahasiswa mempersiapkan diri agar biarpun harus memakai bahasa Inggris, kegiatan untuk meningkatkan awreness atau kesadaran masyarakat terhadap masalah yang menjadi perhatian dunia, seperti kebersihan dan kelestarian lingkungan, mendapat perhatian dan dimengerti oleh masyarakat luas.

Mereka kagum bahwa bahasa yang semula dikira akan menjadi penghambat, masyarakat luas dengan pendampingan mahasiswa lokal, dapat dengan mudah menyatu bersama dalam kegiatan yang menarik.

Masyarakat menyambut baik ajakan untuk meningkatkan pengembangan awareness itu dengan ajakan mencoba pengetahuan yang diberikan.  Agar keluarga desa tidak saja sadar tetapi dapat berubah tingkah lakunya,  karena sudah mencoba dengan bimbingan mahasiswa.

Melihat kegiatan yang sebagian besar di kelola oleh mahasiswa, Rektor UPI Prof Dr Asep Kadarohman  MSi, yang dilapori kegiatan itu terpanggil untuk menjadikannya program yang sekaligus dikelola LPPM. Agar UPI yang selama ini mengirim mahasiswa ke luar negeri sekaligus memfasilitasi mahasiswa asing yang ber-KKN Posdaya di Indonesia.

UPI sekaligus menjadikan kegiatan mahasiswa dari berbagai negara itu sebagai bagian dari sumbangan persahabatan antar bangsa, yang memperkuat kerja sama,  yang lebih luas dengan berbagai perguruan tinggi ternama di dunia. ***

Prof. Dr. Haryono Suyono - Mantan Kepala BKKBN

Penulis : Prof. Dr. Haryono Suyono, mantan Menko Kesra dan Taskin RI

Baca juga :

  1. https://www.rayapos.com/meningkatkan-peran-pensiunan/

2. https://www.rayapos.com/kebangkitan-koperasi-pengusaha-mikro/

3.https://www.rayapos.com/petugas-lapangan-penggerak-kerjasama/

4. https://www.rayapos.com/hari-keluarga-nasional-47/

5.https://www.rayapos.com/hari-anak-nasional-cerminkan-kebersamaan/

 

Comments

comments