Lokasi acara Sedekah Laut yang sudah dibubarkan sekelompok orang di Bantul, Yogyakarta, Sabtu (13/10/2018). Foto: Radar Yogya

@Rayapos | Jakarta – Benturan keyakinan antara tradisi Jawa dengan akidah agama, terjadi di acara Sedekah Laut di Bantul, Yogyakarta, Sabtu (13/10/2018). Acara dibubarkan sekelompok orang. Polisi mengusut tindak kekerasan yang terjadi.

Ketua DPD PDIP DIY, Bambang Praswanto, mendukung polisi mengusut tuntas kasus pembubaran sedekah laut di Pantai Baru, Bantul. Dia mendesak polisi segera mengungkap motif kekerasan terhadap kegiatan budaya ini.

“Polisi paling tidak mengungkap, kenapa sih latarbelakangnya kok melakukan itu? Selama ini kan tidak ada pengganggu,” kata Bambang kepada wartawan, Minggu (14/10/2018).

Menurutnya, pembubaran paksa sedekah laut sudah masuk tindak kriminal.

Sebab, massa yang membubarkan kegiatan tersebut memakai cara-cara kekerasan, termasuk melakukan ancaman terhadap penyelenggara.

“Jadi apa pun alasannya menurut saya tidak boleh ada seorang pun yang mengganggu. Karena dia (penyelenggara sedekah laut) juga tidak mengganggu,” lanjutnya.

Kegiatan sedekah laut, menurut Bambang sebenarnya adalah murni kegiatan budaya yang dilakukan secara turun temurun oleh warga setempat.

Sebelum peristiwa ini kegiatan serupa juga kerap dilaksanakan oleh warga DIY.

“Jadi istilahnya sedekah itu kan memberikan sesuatu pada laut. Harapannya saya kira supaya laut itu baik dengan manusia, ada hubungan antara manusia dengan pencipta alam dengan baik,” paparnya.

“Sedekah laut kan tidak mengganggu orang juga. Ini memang budaya, ada sedekah laut, ada sedekah gunung, ada sedekah kali dan sebagainya. Ada merti (bersih) kali dan sebagianya. Ini kan sebenarnya tujuannya baik,” tutupnya.

Sembilan Orang Diperiksa

Sebelumnya, polisi turun tangan menyelidiki pembubaran dan pengrusakan lokasi tradisi Sedekah Laut di Pantai Baru, Bantul. Kini 9 orang sedang diperiksa secara intensif di Polres Bantul.

“Sudah ditangani dan ada 9 orang yang diperiksa saat ini di Reskrim,” kata Kapolres Bantul, AKBP Sahat Marisi Hasibuan saat dihubungi wartawan, Sabtu (13/10/2018).

Sahat mengungkapkan, pemeriksaan ini dilakukan untuk mengungkap peran dari 9 orang tersebut dalam peristiwa semalam.

“Yang diduga orang-orang yang melakukan pengrusakan, ada 9 orang, dimintai keterangan. Nanti dilihat perkembangannya seperti apa,” kata Sahat.

Polisi belum mengungkapkan dari kelompok mana sembilan orang yang saat ini sedang diperiksa.

“Belum bisa dikatakan. Semuanya ormas ya. Yang jelas kita lihat perkembangan dari pemeriksaan ini untuk mencari siapa pelakunya,” ucapnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, sekelompok orang mendatangi lokasi tradisi Sedekah Laut di Pantai Baru, Ngentak, Poncosari, Srandakan, Bantul, Yogyakarta, Satu (13/10/2018) malam.

Menurut keterangan warga, mereka datang dengan menggunakan cadar hitam sehingga sulit dikenali.

“Mereka minta dibatalkan karena sedekah laut itu syirik dan musyrik, terus bertentangan dengan agama,” kata salah seorang warga, Tuwuh (48) yang juga saksi mata saat ditemui wartawan di Pantai Baru, Bantul, siang tadi.

Tuwuh yang bekerja sebagai nelayan ini menceritakan suasana mencekam yang dilihatnya semalam. Sekelompok orang itu mengobrak-abrik lokasi tradisi sedekah laut, mereka merusak meja dan membanting kursi yang sudah ditata rapi.

Selain itu, kata Tuwuh, kelompok itu sempat memasang sebuah spanduk di sekitar lokasi. Spanduk itu bertuliskan:

‘Kami menolak semua kesyirikan berbalut budaya, sedekah laut atau selainnya’. Namun spanduk itu telah dicopot oleh polisi.

Baca Juga:

Warga Lebak Tetap Tenang, Getaran Gempa Kecil

Yenny Wahid Ajak Mahfud MD Dukung Jokowi

Sosiolog: Berpotensi Konflik Sosial

Menurut Sosiolog Universita Gadjahmada Yogyakarta, Arie Sujito, pembubaran tradisi sedekah laut ini dipicu perbedaan interpretasi budaya antar kelompok.

Sebagaian kelompok menilainya sebagai tradisi, namun kelompok lain memiliki penafsiran yang berbeda.

“Saya kira yang namanya tradisi kayak gitu kan juga menjadi bagian dari sejarah mereka (warga pesisir Pantai Baru Pandansimo),” kata Arie saat dihubungi detikcom, Sabtu (13/10/2018).

“Oleh karena itu, menurut saya kalau ada interpretasi yang berbeda terhadap praktek budaya ya jangan sewenang-wenang merusak,” lanjut dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) UGM ini.

Arie menjelaskan, interpretasi budaya yang berbeda merupakan hal yang lumrah dijumpai di tengah-tengah masyarakat.

Namun, bukan berarti hal itu menjadi pembenaran untuk melakukan kekerasan terhadap kelompok lain.

“Itu (pembubaran tradisi sedekah laut) ya soal interpretasi. Sekali lagi harus dicegah itu ya perusakan-perusakan kayak begitu,” ujarnya.

Untuk mendudukkan interpretasi budaya yang berbeda, kata Arie, sebenarnya tiap-tiap kelompok bisa berdialog atau musyawarah untuk mencari jalan tengah.

Bukan justru memerangi kelompok lain dengan cara-cara kekerasan.

“Tradisi Yogya itu juga ngobrol, berdialog. Jangan sampai terjadi perusakan-perusakan begitu, ini soal interpretasi kebudayaan saja,” ungkapnya.

“Ya kalau masyarakat Bantul melakukan itu, berbeda pandangan ya jangan dirusak. Tapi didialogkan saja. Manusia itu punya penafsiran atas kebudayaannya kok,” tuturnya.

Arie mengingatkan, cara-cara kekerasan yang dipakai untuk menyikapi penafsiran yang berbeda berpotensi menciptakan ketegangan di tengah-tengah masyarakat.

Tak hanya itu, konflik sosial pun juga mungkin terjadi.

“Karena (pelarangan sedekah laut dengan cara kekerasan) nanti menciptakan ketegangan dan konflik sosial,” ucapnya.

Padahal masyarakat Yogyakarta selama ini lekat dengan seni-tradisi. Berbagai seni tradisi-dilakukan warga setiap tahunnya, termasuk tradisi turun-temurun yang dilaksanakan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

“Lha ini misalnya Keraton (Ngayogyakarta Hadiningrat) itukan melakukan tradisi di laut selatan itu bagaimana? Ini soal tafsir ya,” sebutnya.

“Secara umum masyarakat Yogya ini kan penuh toleransi, penuh sikap saling menghormati, itu yang harus dijaga sebagai kekuatan keistimewaan. Jangan sampai berbeda interpretasi melakukan tindakan kekerasan,” tutupnya. (*)