Prabowo Subianto. Foto: Dok Rayapos

@Rayapos | jakarta – Capres Prabowo Subianto geram pada pemberitaan sejumlah media massa di Indonesia. Terutama, soal berita Reuni 212 di Monas, Minggu (2/12/2018) lalu.

Kegeraman tersebut ia sampaikan dalam pidato peringatan Hari Disabilitas Internasional di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Rabu (5/11/2018).

Menurutnya, media massa atau pers telah berupaya memanipulasi demokrasi. Salah satu contohnya, soal pemberitaan reuni 212 yang menurutnya hanya sedikit media yang memberitakannya.

Dipaparkan Prabowo:

“Hebatnya, media-media dengan nama besar dan katakan dirinya objektif, padahal justru mereka bagian dari usaha memanipulasi demokrasi.”

Dilanjutkan: “Kita bicara yang benar ya benar, yang salah ya salah. Mereka mau katakan yang 11 juta hanya 15 ribu. Bahkan ada yang bilang kalau lebih dari 1.000 minta apa itu terserah dia.”

Dengan kondisi tersebut, menurut Prabowo, wartawan dan media telah mengkhianati profesinya. Bahkan, mereka tidak berhak mendapatkan predikat jurnalis.

“Ada belasan juta mereka tidak mau melaporkan. Mereka telah mengkhianati tugas mereka sebagai wartawan. Mereka telah mengkhianati tugas mereka sebagai jurnalis.”

Dilanjut: “Saya katakan, hei media-media yang tidak mau mengatakan ada belasan juta orang atau minimal berapa juta orang di situ, kau sudah tidak berhak memandang predikat jurnalis lagi.”

Prabowo menunjukkan kegeramannya, dengan tidak mau diwawancara seusai acara. Saat ditanya, Prabowo malah menanyakan balik perusahaan tempat wartawan itu bekerja.

“Untuk apa wawancara saya? Orang kemarin 11 juta kau bilang enggak ada orang. Kalau TV One boleh TV One. Nah, gimana TV One?” katanya sambil berjalan di eskalator hotel.

Prabowo mengatakan, kegeramannya karena ada media massa yang menyebut jumlah peserta yang hadir dalam reuni 212 hanya 30 ribu orang. “Tidak objekif,” ujarnya.

“Bagaimana? Orang kalian bilang hanya 30 ribu orang yang hadir, CNN yang bliang. Ya tapi redaksi kamu bilang enggak ada orang di situ, hanya beberapa puluh ribu, itu kan tidak objektif, enggak boleh dong. Kebebasan pers, jurnalisme itu harus objektif, memberitahu apa adanya,” keluhnya.

Baca Juga:

Sandiaga Jual Saham Saratoga Sebanyak Ini untuk Dana Kampanye

Natal Bakal Digelar di Stadion GBK, Pengelola Siapkan Grass Cover

Novelis Tenar Nh Dini Dikremasi Hari Ini

Wartawan, menurutnya, harus berani menegur media tempatnya bekerja, apabila tidak memberitakan secara objektif.

Apabila tidak, katanya, maka media massa akan ditinggalkan pemirsa atau pembacanya.

“Kau harus tegur, jangan menipu rakyat, enggak baik. Jadi kalau begitu nanti kalian akan ditinggal rakyat,” jelasnya.

Dia tegaskan: “Kalau saya udah enggak mau kasih keterangan kepada media yang enggak jelas, karena enggak akan disiarkan juga,” bebernya. (*)