Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kanan) berjabat tangan dengan Presiden PKS Sohibul Iman (kiri) (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

@Rayapos | Jakarta – Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto menyebut kemiskinan lima tahun terakhir naik 50%. Bukan hanya Prabowo, Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan, 100 juta orang masuk kategori miskin.

Pernyataan itu sangat jauh berbeda dengan hasil data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) belum lama ini.

BPS menyampaikan pada Maret 2018, angka kemiskinan di Indonesia 9,82% atau menjadi 25,95 juta orang.

Kepala BPS Suhariyanto pun mempertanyakan dari mana Prabowo dan SBY memperoleh angka tersebut.

“Angka dari mana dulu? kalau kita ngomong kan harus pakai data kan. Kalau cuma ngomong, nggak pakai data ya susah ya. Cek saja data yang ada. Jadi kalau sebuah statement nggak ada datanya agak susah kita mengkonfirmasi,” katanya di Kantor Kemenkominfo, Jakarta, Senin (30/7/2018).

Baca juga:

Ahok Boleh Bebas Bersyarat Agustus Nanti, Apakah Terkait Kejutan 16 Agustus?

Petisi “Tolak Masa Jabatan Wapres Lebih dari Dua kali” Didukung Ribuan Orang

Anies: Pelican Crossing Bunderan HI untuk Hormati Pejalan Kaki

Dalam menyampaikan data, Suhariyanto mengatakan metodenya harus jelas dan tidak asal sebut.

“Sekarang kalau kita menghitung metode, metodenya itu kan harus baku ya. Saya bisa saja bilang penduduk miskin 5% loh. Dari siapa (datanya)? ngikutin saya, kan gitu. Atau saya bilang penduduk miskin Indonesia 50%, dari mana? ya pokoknya ngikutin saya saja. Kan nggak bisa gitu,” ujarnya.

Menurut Suhariyanto, metode penghitungan yang digunakan BPS sudah mengikuti standar internasional.

“Kita harus mengacu kepada standar metode yang baku, yang biasa dilakukan oleh semua negara. Kayak BPS, tadi saya bilang kita bukan BPS yang bikin metodenya, tapi mengacu pada Handbook on Poverty and Inequality yang dibuat oleh lembaga internasional. Diterapkan di negara lain nggak? diterapkan,” tambahnya.

Berdasarkan data BPS, angka kemiskinan justru turun dalam lima tahun terakhir. Pada 2 Januari 2018 lalu, BPS merilis data kemiskinan penduduk Indonesia per September 2017.

Dari data itu, jumlah penduduk miskin Indonesia pada September 2017 tercatat mencapai 26,58 juta orang atau sekitar 10,12 persen dari 268 juta lebih penduduk.

Jika ditarik hingga 5 tahun ke belakang, jumlah ini menurut data yang dikoleksi BPS, sudah mengalami penurunan. Jumlah penduduk miskin pada September 2012 tercatat mencapai 28,71 juta atau sekitar 11,66 persen. Artinya, penduduk miskin berkurang hingga 2,13 juta atau sekitar 7,4 persen.

Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara, mengatakan kemungkinan data yang disebutkan Prabowo masih data lama sebelum 2015. Bhima mengatakan per Maret 2018, jumlah penduduk miskin 25,9 juta orang dan pada Maret 2013, jumlah penduduk miskin 28,07 juta orang.

“Jadi lima tahun ini berkurang sekitar 2,17 juta orang. Jadi klaim kemiskinan naik 50 persen tidak benar,” kata Bhima.

BAGIKAN