Joko Widodo ketika memberikan arahan kepada 4.555 orang Babinsa

@Rayapos | Jakarta – Presiden RI Joko Widodo menilai peran Babinsa sangat besar untuk mengantisipasi berkembangnya paham radikalisme dan terorisme di masyarakat. Pasalnya, radikalisme berpotensi mengancam kondusifitas dan keamanan negara.

Hal tersebut disampaikan Kepala Negara ketika memberikan arahan kepada 4.555 orang Bintara Pembina Desa ( Babinsa) dari seluruh Indonesia di hanggar PT Dirgantara Indonesia (DI), Jalan Pajajaran, Kota Bandung, Selasa (17/5/2018).

“Babinsa berada di bagian paling depan dalam mengantisipasi radikalisme, terorisme, jangan sampai dibiarkan berkembang kemana mana karena bisa meresahkan masyarakat,” tegas Presiden Jokowi.

Menurut Jokowi, salah satu isu yang perlu diantisipasi sedari dini adalah kabar yang mengatakan jika dirinya sebagai pemimpin dan lambang negara memiliki keterkaitan dengan Partai Komunis Indonesia ( PKI) serta paham-paham komunisme.

“Saya berikan contoh (isu yang perlu diantisipasi) misalnya isu yang mengatakan presiden Jokowi itu PKI. Itu isu yang beredar di bawah (akar rumput) dan di survei-survei itu muncul,” jelasnya.

Baca Juga:

Angka Kemiskinan Menurun, Fahri Hamzah: Pemerintah Kembali Bohong

Hary Tanoe Dipaksa Massa Turun Mobil, Jalan Kaki

Pada kesempatan yang sama, secara tegas Jokowi kembali membantah hal tersebut. Presiden memastikan tidak ada silsilah dalam keluarganya yang berhubungan dengan PKI atau komunisme.

“Logikannya saudara bisa menjelaskan kepada masyarakat. PKI dibubarkan tahun 65 saya lahir tahun 61. Apa mungkin ada PKI balita. Logikanya sih gitu saja. PKI itu jelas organisasi terlarang,” tandasnya.

Isu dan hoax seperti itu, kata Kepala Negara, dengan mudah dapat menyebar. Bisa saja melalui saluran elektronik, media sosial dan lain-lain.

“Jangan sampai isu-isu ini meresahkan rakyat kita. Yang namanya politik bisa meresahkan masyarakat,” tukasnya.