Gao Chengyong saat ditangkap polisi China. Foto: Reuters

@Rayapos } Jakarta – Pria ini dijuluki ‘Jack the Ripper Cina’. Dia sejak 1988 membunuh, memperkosa, memutilasi korban (semuanya wanita). Kamis (3/1/2019) ini dia dieksekusi mati.

Namanya, Gao Chengyong. Usia 53 tahun. Ayah dari dua anak. Selama 30 tahun ini dia jadi momok bagi wanita di kotanya, Baiyin, Provinsi Gansu, China.

Dia sudah terbukti membunuh 11 perempuan. Semua korbannya dibunuh dengan sangat sadis. Diperkosa, lalu dimutilasi.

Seperti dilaporkan Beijing Youth Daily, Gao melakukan pembunuhan-pembunuhan itu antara tahun 1988 hingga 2002. Korban termudanya adalah bocah perempuan berusia delapan tahun.

Tapi, dia sangat pandai menghilangkan jejak. Selama puluhan tahun polisi tidak tahu identitas Gao. Polisi hanya bisa menyimpan DNA Gao. Karena, teridentifikasi di korban perkosaan Gao.

Dalam menjalankan aksinya, Gao selalu membuntuti korbannya hingga rumah masing-masing. Lalu dia merampok, memperkosa, dan membunuh mereka.

Dia memotong leher para korbannya dan memutilasi tubuh mereka. Itu terus modusnya. Sehingga dia dijuluki Jack the Ripper China.

Julukan itu menyitir Jack the Ripper (Jack sang pencabik) yang sangat terkenal di London, Inggris pada tahun 1888. Kelakuan Gao mirip Jack di Inggris yang juga membunuh, memperkosa belasan wanita.

Gao, seorang ayah dari dua anak. Dia ditangkap pada tahun 2016 di toko kelontong yang ia kelola di Baiyin, provinsi Gansu.

Polisi berhasil melacak pria berusia 53 tahun itu melalui serangkaian tes DNA.

Baca Juga:

Maia Ungkap Sifat Asli Suami Baru

Kebetulan terkait DNA

Pembunuhan pertama Gao terjadi pada Mei 1988. Itu tahun kelahiran putranya.

Seorang perempuan berusia 23 tahun ditemukan di Baiyin dengan 26 luka tusukan di tubuhnya.

Pembunuhan berikutnya mengikuti pola yang sama: menyasar perempuan muda yang hidup sendirian.

Gao juga memotong sebagian organ reproduksi korbannya, lapor Beijing Youth Daily. Korbannya yang paling muda berusia delapan tahun.

Sesudah serangkaian serangan pembunuhan itu, perempuan di kota Baiyin tidak ada lagi yang berjalan sendirian di jalanan tanpa ditemani oleh sanak atau teman laki-laki .

Rangkaian pembunuhan itu berhenti pada tahun 2002 tetapi baru beberapa tahun kemudian sebuah terobosan datang, melalui sebuah kebetulan.

Saat itu seorang paman dari Gao ditangkap karena tindak pidana ringan. Dia memberikan sampel DNA.

Hasil tes DNA itu membuat polisi mengaitkannya dengan Gao: bahwa pembunuhan berantai itu pasti dilakukan oleh seorang kerabat sang paman – yang kemudian dipastikan bahwa sang buron itu adalah Gao.

Di Pengadilan Baiyin, hakim menyebut Gao melakukan serangkaian tindakan jahat tak terbayangkan, dan menjatuhinya dengan hukuman mati.

Eksekusinya pada hari Kamis diumumkan oleh pengadilan di akun media sosial Weibo mereka.

Di Cina, eksekusi hukuman mati sebagian besar dijalankan dengan suntikan atau regu tembak, namun belum jelas bagaimana eksekusi terhadap Gao dilakukan. (*)

BAGIKAN