Puluhan Ribu Bangunan Hancur, Tempat Ibadah Tetap Kokoh

Kolase: Rayapos / DWO

@Rayapos | Palu – Gempa di Sulawesi Tengah menghancurkan puluhan ribu bangunan. Berdasarkan data BNPB, lebih dari 60 ribu bangunan hancur. Tapi tempat ibadah masih kokoh.

Contohnya, Hotel Roa Roa di Palu. Hotel ini ambruk rata dengan tanah. Tapi, gereja di sebelahnya tetap berdiri kokoh.

Gereja itu bernama Gereja International Full Gospel Fellowship (IFGF). Bentuk atapnya lancip. Lokasinya persis di sebelah Hotel Roa Roa yang 7 lantai.

Gereja IFGF kini jadi pembicaraan warga setempat. Mereka kagum pada kekuatan bangunan gereja tersebut.

Sampai Kamis (11/10/2018) hari ini, puing-puing Hotel Roa Roa masih teronggok di lokasi. Meskipun gempa sudah lebih dari seminggu.

Maka, jalan menuju ke gereja IFGF belum bisa diakses. Terlihat alat berat sedang bekerja membersihkan sisa-sisa reruntuhan.

Gereja IFGF adalah bagian dari Hotel Roa Roa. Pemilik Hotel Roa Roa, Denny Liem. Dia juga yang mendirikan gereja tersebut.

Denny kepada wartawan di Palu, menceritakan, gereja IFGF dibangun oleh keluarganya pada tahun 2013, bersamaan dengan pembangunan hotel untuk melengkapi fasilitas.

Tapi, gereka IFGF tidak hanya khusus untuk tamu hotel, melainkan juga bisa digunakan untuk tempat ibadah para jemaat di sekitar lokasi.

“Gereja itu bagian dari hotel. Jadi yang punya, yang gembalakan ya orang tua saya. Jemaatnya ya jemaat umum seperti biasa,” kata Denny.

Saat gempa terjadi, Denny sedang berada di Surabaya. Dia mendapat kabar musibah ini dari orang tuanya yang berada di Palu.

Sesaat setelah gempa, kedua orang tua Denny langsung mengecek gereja.

“Waktu itu gereja ini tertutup oleh puing bangunan yang ada usai gempa. Tapi ya kami bisa akses berjalan kaki, melompati puing-puing melihat keadaan gereja,” ucap Denny.

Begitu dicek, ternyata bangunan gereja masih utuh. Hanya terdapat beberapa keretakan kecil saja di sisi-sisi temboknya.

Menurut Denny, kalau secara logika, bangunan gereja bisa tahan gempa karena material bangunannya.

Gereja seluas 1.300 meter persegi itu menggunakan material beton, dan untuk atapnya menggunakan baja ringan. Sedangkan untuk bagian kaca menggunakan kaca biasa.

Selain itu tinggi bangunan yang hanya satu lantai juga dianggap berpengaruh terhadap gempa.

“Gereja ini kita bangun sendiri. Kontraktor sendiri dari swasta sih, lain dengan kontraktor hotel, beda,” ujar Denny.

Namun bila dilihat dari sisi religius, Denny percaya bahwa gereja adalah rumah Tuhan, dan Tuhan punya rencana sendiri untuk menjaganya.

“Secara logis mungkin kita bisa jelaskan, tetapi secara iman atau secara Kristiani kami percaya Tuhan bekerja untuk semua kebaikan jemaatnya,” ucapnya.

Seminggu lebih usai musibah itu, gereja IFGF belum bisa digunakan karena jalan masuknya masih tertutup puing-puing reruntuhan Hotel Roa Roa.

Setelah proses evakuasi selesai, Denny berencana untuk merenovasi gereja agar bisa digunakan kembali oleh para jemaat.

“Belum difungsikan. Kemarin ibadah di rumah saja. Renovasi paling sedikit, saya rasa tidak terlalu parah kerusakannya,” tutur Denny.

Simak videonya di sini:

Baca Juga:

Guru SMAN 87 Berhentikan Sementara Guru Nelty Khairiyah

Ada JPO Horor di Stasiun Pasar Minggu, Warga Minta Penerangan Lampu

Gerindra: Pilpres 2019 Jadi Pertarungan Terberat Prabowo

Banyak Masjid Masih Kokoh

Sebelumnya diberitakan, berdasarkan data BNPB, ada lebih dari 60 ribu bangunan yang runtuh akibat gempa di wilayah yang dilintasi Sesar Palu-Koro tersebut.

Dari puluhan ribu bangunan yang runtuh itu ada sejumlah tempat ibadah yang masih berdiri kokoh.

Yakni masjid Ar-Rahman, masjid Babul Jannah, dan masjid Al-Amin, yang terletak di Donggala, serta Masjid Terapung Argam Bab Al-Rahman, dan Gereja IFGF di Palu.

Tempat-tempat ibadah ini memiliki bentuk dan usia yang berbeda.

Seperti masjid Al-Amin yang telah berusia ratusan tahun, sedangkan masjid Bab Al-Rahman dan Gereja IFGF belum genap sepuluh tahun berdiri.

Namun posisi kelimanya mirip, yakni sama-sama dibangun di pantai atau bibir pantai.

Simak videonya di sini: