@Rayapos | Jakarta – Kemelut pembuangan sampah Jakarta ke Bekasi, sudah terurai. Gubernur DKI Anies Baswedan dan Walikota Bekasi Rahmat Effendi sudah bertemu membahasnya.

Tapi, tak diduga, ternyata mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sependapat dengan Anies terkait itu. Apa yang dilakukan Ahok dulu, sudah ditiru Anies sekarang,

Detil penjelasan Ahok diungkapkan di bagian bawah naskah ini. Jelas dan transparan.

Sedangkan, bersitegang Anies – Rahmat sempat menghebohkan Indonesia. Anies sempat mengancam Rahmat: “Mau diselesaikan baik-baik, atau perang di media massa?” katanya.

Sebaliknya, Rahmat menyatakan, sebaiknya Anies melihat langsung, dari dekat, tempat pembuangan sampah di Bantargebang, Bekasi. Berarti, Anies belum pernah ke sana.

Masalah akhirnya selesai, setelah Walikota Bekasi Rahmat Effendi berkunjung menemui Anies Baswedan ke Balaikota DKI Jakarta.

Anies Baswedan pun memposting pertemuan dengan Rahmat Effendi di akun instagramnya @aniesbaswedan dengan narasi lengkap.

Isi postingnya begini:

Siang tadi menyambut dan menjamu Walikota Bekasi Pak Rahmat Effendi bersama jajarannya di Balaikota.

Kita merasa senang sekali bisa berdiskusi dengan Pak Walikota dan seluruh jajarannya. InsyaAllah kita memikirkan dan mengerjakan ini semua sebagai satu kesatuan.

Kita semua bekerja dibawah negara yang sama, UU yang sama dan untuk warga yang sama yaitu Indonesia.

Hanya kebetulan saja secara administratif pemerintahan ada pembagian wilayah. Tapi itu tak berarti, kita bekerja secara sendiri-sendiri.

Ahamdulilah kita sepaham bahwa TPST Bantargebang berjalan seperti biasa.

Dan hari-hari ke depan tim dari Pemkot Bekasi dan Pemprov DKI akan mendiskusikan kegiatan-kegiaatan pembangunan yang bisa dikerjakan bersama.

Semangat kerja bersama, semangat kemitraan justru harus diperkuat. Wilayah Jabodetabekjur merupakan sebuah wilayah yang memiliki kadar integrasi tinggi. Dalam aspek ekonomi, geografis, penduduk dan lingkungan.

Karena itu justru kita ingin perkuat agar pembangunan Jabodetabekjur itu dilakukan dalam sebuah semangat integrasi dan kerja bersama pun dilakukan dengan semangat yang sama.

Semangat kebersamaan dan persaudaran kita jaga dan rawat sama-sama. Baik antar pimpinan pemerintahan, aparat maupun antar masyarakat di wilayah kita masing-masing.

Dikutip dari tribunnews.com, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah menunaikan kewajibannya kepada Pemerintah Kota Bekasi.

Kewajiban itu sebagaimana yang sudah disepakati dalam perjanjian kerja sama (PKS) tentang pengelolaan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang.

“Dari aspek kewajiban-kewajiban, kita sudah selesai, tidak ada kewajiban yang tersisa,” ujar Anies di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Minggu (21/10/2018).

Anies menyampaikan, salah satu kewajiban Pemprov DKI Jakarta yakni membayar dana kompensasi bau sampah kepada Pemkot Bekasi.

Setiap tahunnya, Pemprov DKI membayar sesuai tonase sampah dari Jakarta yang dibuang ke TPST Bantargebang. Pemprov DKI sudah membayar dana kompensasi bau untuk tahun 2018.

“Di tahun 2018, kita sudah menunaikan, nilainya Rp 138 miliar, dengan tambahan juga utang tahun 2017 senilai Rp 64 miliar,” kata Anies.

Pemprov DKI Jakarta, lanjut Anies, juga sudah mengalokasikan anggaran untuk dana kompensasi bau pada 2019.

Nilainya yakni Rp 141 miliar, didasarkan pada proyeksi tonase sampah yang akan dibuang ke TPST Bantargebang.

Anies menyampaikan, dana yang kini dipersoalkan Pemkot Bekasi bukanlah soal kewajiban Pemprov DKI, melainkan permohonan dana kemitraan yang diajukan pada Mei 2018.

Baca Juga:

Prabowo Minta Habib Rizieq Pulang Sebelum Pilpres, Jika Tidak….

Menteri Ini Diancam akan Diperkosa Karena Tentang Reklame Senjata

Diejek “Gajah”, Tersangka Bantai Muhajir Sekeluarga

Anies Dibela Ahok

Pernyataan Anies Baswedan terkait masalah sampai TPST Bantar Gebang dengan Pemkot Bekasi pun tampaknya mendapat pembelaan dari Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Akun @basukibtp, akun resmi Ahok yang dikelola tim @basukibtp, memposting sebuah tulisan yang dikutip dari buku ‘Kebijakan Ahok’ halaman 260.

Kutipan tulisan itu secara tidak langsung, lekas memperjelas posisi masalah antara Anies Baswedan dan Pemkot Bekasi terkait TPST Bantar Gebang.

Inilah kutipan dari buku ‘Kebijakan Ahok’ halaman 260 :

Dana kompensasi bau yang diterima Pemerintah Kota Bekasi sebelum addendum berkisar Rp 63 miliar menjadi Rp143 miliar per tahun.

Dana kompensasi ini digunakan untuk penanggulangan kerusakan lingkungan, pemulihan lingkungan, biaya kesehatan dan pengobatan, dan kompensasi dalam bentuk lain berupa bantuan langsung tunai.

Peningkatan dana kompensasi dengan status Bantargebang yang sebelumnya selalu dikelola oleh pihak ketiga. Saya tidak ingin ini kembali terjadi.

Bantargebang harus dikelola secara mandiri oleh kami melalui Dinas Kebersihan DKI Jakarta.

Kenapa Saya sempat sangat marah kepada pengelola Bantargebang sebelumnya? Karena tidak pernah beres!

Hasil audit menyatakan pengelola sampah sebelumnya (swasta) wanprestasi.

Ada tiga poin soal wanprestasi, pertama pengelola sebelumnya tidak memenuhi kewajibannya dalam mencapai Finansial Closing sesuai dengan Surat Perjanjian.

Kedua, tidak memenuhi keseluruhan kewajiban menyerahkan laporan atas rekening khusus sebagaimana yang diwajibkan.

Ketiga, pihak pengelola sampah ini dinyatakan tak melaksanakan pembangunan dan pengembangan sarana dan prasana baru, sebagaimana diwajibkan.”

Di buku Kebijakan Ahok masih banyak cerita lainnya mengenai kebijakan-kebijakan lainnya yang dilakukan oleh BTP selama menjadi Gubernur DKI

Nah… dalam kutipan dari buku ‘Kebijakan Ahok’ itu memang sama sekali tak ada disebu soal dana kemitraan yang kini diminta Pemkot Bekasi. (*)