Sam Aliano. Foto: Dok Rayapos

@Rayapos | Jakarta – “Kalimat Tauhid sengaja dimanfaatkan oleh jaringan teroris untuk menipu masyarakat, seolah-olah itu Islam dan berjihad atas nama Islam,” kata Sam Aliano kepada wartawan, Rabu (24/10/2018).

Sam adalah Ketua Asosiasi Pengusaha Muda Indonesia (APMI)

Menurutnya, penggunaan kalimat Tauhid dilekatkan di bendera-bendara ISIS, Al Qaeda, dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Maka dia menduga, HTI yang sudah dinyatakan sebagai organisasi terlarang oleh pemerintah RI, terkait erat dengan ISIS dan Al Qaeda.

Pernyataan ini disampaikannya dalam rangka menanggapi insiden pembakaran bendera yang bertuliskan kalimat tauhid oleh oknum Banser.

Itu terjadi saat acara peringatan Hari Santri Nasional di Limbangan, Garut, Jawa Barat, Senin (22/10/2018).

Dijelaskan Sam, ide menempelkan kalimat Tauhid pada bendera, awalnya berasal dari kelompok teroris Hayat Tahrir Al-Sham (HTS) atau Jabat Al Nusra yang berbasis di Suriah.

Jaringan teroris ini kemudian lebih dikenal dengan nama Al-Qaeda atau ISIS.

“Tujuan ada kalimat Tauhid dalam bendera yang dipakai oleh ISIS atau HTI adalah untuk menipu masyarakat, khususnya umat Islam bahwa mereka itu seolah-olah bagian dari Islam dan berjihad atas nama Islam,” tuturnya.

Karena mengatas-namakan agama Islam, lanjutnya, maka mereka leluasa memaksakan kehendak mereka sendiri, seolah-olah atas nama agama.

Sam Aliano meminta agar semua pihak saling bekerja sama. Tidak boleh membiarkan jaringan teroris menyalahgunakan kalimat Tauhid untuk kepentingan mereka.

Ia berharap supaya masyarakat berhati-hati atau tidak tertipu dengan manipulasi kesadaran yang dilakukan oleh teroris.

“Mungkin berat jika ada pihak yang melarang pengibaran atau pembakaran bendera itu. Banyak masyarakat tidak memahami tujuan teroris menggunakan kalimat Tauhid pada bendera mereka,” jelasnya.

Dia lanjutkan: “Padahal, itu adalah untuk mengadu-domba agar umat Islam terutama generasi muda terpecah dan bahkan bersedia bergabung dengan mereka.”

Sehingga, menjadi penting melawan tindakan manipulasi kesadaran yang dilakukan jaringan teroris dengan menyalahgunakan kalimat Tauhid.

“Jelas-jelas pemerintah telah menetapkan bahwa HTI adalah organisasi terlarang. Saat persidangan pun HTI telah mengakui bahwa bendera seperti yang dibakar Banser di Garut adalah bendera organisasi mereka,” tuturnya.

Dilanjut: “Walaupun di dalamnya tidak terdapat tulisan HTI. Logikanya sederhana, sama seperti bendera berlambang palu-arit. Meski tidak ada tulisan PKI-nya tapi itu jelas-jelas bendera PKI, harus kita lawan,” ucapnya.

Penjelasan Ketua PP GP Ansor Soal Pembakaran Bendera

Saiful Rahmat Dasuki sebagai Ketua Pengurus Pusat GP Ansor yang menjadi induk Banser menyebut insiden pembakaran bendera tauhid adalah spontanitas anggotanya.

“Ini memang kejadiannya agak spontanitas. Dari organisasi kami sudah memberikan instruksi sebelumnya agar ketika melihat berlafazkan tauhid dan itu terindikasi sebagai bendera HTI, maka kami meminta untuk melepaskannya dan menyerahkan kepada aparat keamanan, semestinya seperti itu,” ujar Saiful Rahmat Dasuki dalam acara Kabar Petang TV One, Senin (22/10/2018).

“Kami memandang bendera itu adalah bendera HTI, sebuah organisasi terlarang di Republik Indonesia. Negara saja melarang bendera HTI. Termasuk organisasinya,” ucapnya.

Baca Juga:

Tahun Depan Karang Taruna DKI akan Dapat Rp500 Ribu per Bulan

Apakah Diskotek Old City Bakal Ditutup Permanen? Ini Jawaban Disparbud DKI

Awas, Banyak Penyakit Incar Pekerja Kantoran

Ada Upaya Sistematis Kibarkan Bendera HTI

Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor, Yaqut Cholil Qoumas menilai ada upaya sistematis dan terencana untuk mengibarkan bendera HTI pada peringatan Hari Santri di beberapa daerah.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas (kanan) dan Sekretaris Jenderal Gerakan Pemuda Ansor Abdul Rochman saat jumpa pers di Jakarta, Rabu (24/10/2018). Foto: Antara
Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas (kanan) dan Sekretaris Jenderal Gerakan Pemuda Ansor Abdul Rochman saat jumpa pers di Jakarta, Rabu (24/10/2018). Foto: Antara

“Tidak hanya di Garut. Tetapi juga di Tasikmalaya, Sumedang, Cianjur, Bandung Barat dan Semarang,” kata Yaqut dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (24/10/2018).

Yaqut mengatakan, pihaknya belum menemukan fakta tujuan dari upaya sistematis tersebut, apakah memiliki tujuan politik atau semata-mata menyasar organisasi Nahdlatul Ulama.

“Kami sedang menurunkan tim untuk melakukan investigasi,” ujarnya.

Saat ditanya tentang siapa yang membawa bendera yang mereka yakini sebagai bendera HTI pada peringatan Hari Santri di Garut, Yaqut mengatakan belum diketahui.

Namun, dia menyebut ada yang berusaha memprovokasi dengan membawa bendera tersebut.

Pasalnya, panitia kegiatan sudah melarang peserta untuk membawa bendera apa pun selain bendera merah putih.

“Kawan-kawan kita terlalu baik. Hanya diambil benderanya saja untuk dibakar, tetapi orangnya dilepaskan,” katanya.

Yaqut mengatakan, pembakaran bendera tersebut merupakan tindakan spontan yang sebenarnya melanggar prosedur tetap Ansor dan Barisan Ansor Serba Guna (Banser).

“Prosedur kami, bila ada kader yang melihat atau menemukan pengibaran bendera HTI adalah mendokumentasikan kemudian melapor ke polisi,” jelasnya. (*)