Ratna Sarumpaet

@Rayapos | Jakarta – Apa pun dikritik Ratna Sarumpaet. Termasuk pemilihan Cawapres Ma’ruf Amin. Di sosial medianya dia menyatakan, Mar’ruf tidak tepat, sebab sudah tua dan sakit-sakitan. Otomatis dia dikritik kader Partai Solidarits Indonesia (PSI).

Juru Bicara (jubir) bidang kepemudaan Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Dedek Prayudi, memberikan komentar pada kicauan aktivis, Ratna Sarumpat di Twitter.

Melalui Twitter miliknya, @Uki23, Dedek membalas tweet Ratna soal kritikannya pada Joko Widodo (Jokowi), Minggu (12/8/2018).

Awalnya, tweet Ratna yang membalas dari akun netizen @Pramana04503402. Isinya begini:

“Kebencian ibu sama jokowi sudah terlalu dlm, jd siapapun yg mndampingi pak jokowi dan apa pun yg dilakukannya pasti ga ada benernya di mata ibu,” tulis @Pramana04503402.

“Saya tidak punya alasan mbenci @jokowi Aku marah pada orang2 yg memanfaatkan ketidak mampuannya memimpin RI; marah Pada banyaknya orang2 kayak kamu @pramana04503402 yg tidak cukup cerdas untuk mampu melihat kehancuran RI di bawah pemerintahannya yg gagal total,” ujar @RatnaSpaet.

Jawaban dari Ratna itu dibalas oleh Dedek Prayudi yang mengatakan jika penilaian yang diberikan Ratna pada pemerintahan seharusnya lebih obyektif.

Dedek pun menambahkan jika ia menyukai kengototan dari Ratna, namun Dedek menganggap jika kengototan dari Ratna tidak berisi.

“Anda mesti banyak belajar tentang indikator pembangunan dan cara membaca data bu, supaya objektif dalam menilai keberhasilan maupun kegagalan.

Saya sangat suka dengan kengototan anda.

Hanya saja kengototan anda akan bermanfaat apabila ada isi. Itu yang saya sayangkan.” balasnya.

Baca Juga:

H-5 Asian Games, Kali Item Masih Bau Busuk

Anak Ahmad Dhani Dilarikan ke RS, Over Dosis

PKS Siapkan Aher Jadi Wakil Gubernur DKI?

Sebelumnya, Sabtu (11/8/2018) Ratna menyerang Ketua MUI KH Ma’ruf Amin yang maju sebagai cawapres Joko Widodo. Ratna mempertanyakan alasan Jokowi memilih Ma’ruf.

Kegelisahan Ratna itu dia tuliskan lewat akun Twitternya @RatnaSpaet. Ada tiga cuitan tentang Jokowi dan Ma’ruf Amin yang dia unggah. Salah satunya soal ‘Menolak Lupa Fatwa MUI’ yang juga ramai dibahas netizen.

“Politik boleh apa saja. Boleh lupa, boleh bohong, boleh munafik, bahkan boleh secara sadar menyakiti rakyat yang seharusnya ia lindungi,” cuit Ratna sambil menyertakan foto Ma’ruf Amin dan tangkapan layar artikel soal Fatwa MUI tak boleh pilih pemimpin ingkar janji.

Ketika dimintai konfirmasi, Ratna mengaku mempertanyakan alasan Jokowi memilih Ma’ruf Amin. Sebab, dari segi usia Ma’ruf dinilai sudah tua.

“Ya buat apa Ma’ruf Amin diambil sebagai wapres, secara usia uzur sakit pula, sakit jantung, lemah jantung kan dia. Orang boleh dong, aku bertanya-tanya dong, di politik kan mau apa,” kata Ratna kepada wartawan, Sabtu (11/8/2018).

Ratna juga mempertanyakan keputusan Ma’ruf Amin mau menjadi cawapres Jokowi. Meski begitu, dia berharap Ma’ruf Amin tetap bisa memberikan manfaat untuk kubu koalisi Jokowi.

“Saya heran tulisan dulu fatwanya Pak Ma’ruf kan mengatakan orang kayak Jokowi nggak boleh dipilih lagi. Kenapa sih dia sudah tua begitu mau jadi wakil,” kata Ratna.

Dia lantas menyinggung akherat. “Tapi menurut saya nggak apa-apa bisa saja, paling saja orang-orang di kelompok sebelah bisa percaya agama Islam, kan ada orang yang nggak percaya akherat. Ya mudah-mudahan ada manfaat,” jelasnya.

Ratna mengatakan seharusnya Jokowi memilih cawapres yang bisa menutupi kekurangan pemerintahannya selama ini. Dia pun menyayangkan sosok Ma’ruf Amin dipilih sebagai cawapres.

“Tapi kalau kita mengharapkan wapres, dengan kelemahan Pak Jokowi selama ini harusnya cari dong yang memperkuat. Dia lemah sekali pemahaman tentang kepemimpinan, hampir semua merasakan,” tuturnya.

Dilanjutkan: “Kalau mereka jeli yang mengusung dipasangkan lah dengan seorang yang capable, yang punya kemampuan memback up sebanyak-banyaknya.”

“Padahal beliau yang selama ini memojokkan Islam. Terus apakah dengan mengambil Ma’ruf terus dengan sendirinya umat Islam untuk memilih Jokowi?” katanya.

Menurutnya, itu memanfaatkan ulama dan ulamanya mau pula. Padahal Ma’ruf pernah mengeluarkan fatwa kegagalan Jokowi.

“Jadi aku sih mau mengatakan kenapa aku bilang ada terpisah bisa menyatu karena kongsi politik semua itu bisa, bohong bisa, munafik bisa, apa aja bisa. Gitu lo maksudnya,” kata Ratna. (*)

BAGIKAN