Seandainya Saja Dia Adalah,”Jenderal Agus Harimurti Yudhoyono”

Foto: ronamase.blogspot.com
Foto: ronamase.blogspot.com

Sangat mengejutkan ketika Ketua Umum Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersama partai politik yang tergabung dalam Koalisi Cikeas, mengumumkan bahwa mereka mengusung Danyon Infanteri Mekanis 203/Arya Kemuning (AK), Mayor (inf) Agus Harimurti Yudhoyono sebagai calon gubernur DKI Jakarta.

Mayor Agus sendiri dipasangkan dengan salah satu deputi Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), yaitu Sylviana Murni, sebagai pasangan calon yang akan diusung oleh Demokrat, PPP, PKB dan PAN di Pilkada DKI Jakarta 2017 mendatang.

Adapun Agus Harimurti –perwira aktif TNI AD- adalah putra sulung SBY.

Tentu saja tidak ada yang salah dengan pencalonan tersebut, karena masing-masing memiliki hak politik. Tak heran jika Poros Cikeas pun membopong optimisme tinggi terhadap pasangan Agus-Sylvi tersebut.

Gabungan figur muda dan tua di dalam pasangan ini merupakan kombinasi hebat, yang jika berhasil menguasai “Tahta Ibukota” akan sangat menjanjikan. Keduanya merupakan “wajah baru” di dalam panggung politik, bisa diibaratkan seperti lembaran kertas putih tanpa guratan macam-macam warna tinta.

Persoalan apakah Agus-Sylvi mampu untuk menumbangkan Ahok-Djarot, serta pasangan ketiga yang mungkin akan diusung oleh Gerindra dan PKS, tentu saja merupakan persoalan berbeda.

Namun ada sedikit ganjalan.

Dalam sebuah seremoni pelantikan 1.092 taruna TNI dan Polri di Surabaya, Desember 2009, SBY –kala itu menjabat Presiden dan menjadi inspektur upacara-, melemparkan sebuah kalimat bertuah yang sayangnya, kini, seolah berbalik menyerang keputusan Demokrat terkait pencalonan sang putra, Mayor Agus Harimurti.

Waktu itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengingatkan para perwira lulusan akademi TNI dan Polri sebaiknya tidak bercita-cita menjadi kepala daerah mulai dari tingkat gubernur, bupati, dan walikota.

Di Graha Samudra Bumi Moro Surabaya, Markas Komando Armada Kawasan Timur, Surabaya, SBY mengatakan merupakan hal yang wajar dan benar apabila seorang prajurit berkeinginan untuk menjadi jenderal, laksamana atau marsekal, demi pengabdian yang lebih luas lagi kepada negara.

Sambutan yang sangat luar biasa dari seorang pemimpin!

Namun demikian, kalimat selanjutnya menjadi kata-kata bertuah yang saya bilang tadi, menjadi bumerang untuk SBY dan barisan Poros Cikeas saat ini.

Perhatikan apa yang disampaikan SBY:

“Yang tidak benar kalau kalian memasuki akademi TNI Polisi lantas cita-citanya ingin menjadi bupati, waikota, gubernur, pengusaha, dan lain-lain. Tidak tepat,” ujarnya.

Dalam pesan lanjutan, SBY mengatakan demikian:

“Bisa saja dalam perjalanan kehidupan nanti ada dinamika, takdir, jalan kehidupan kalian memasuki profesi yang lain, tapi saya ingin hati dan pikiran kalian semua mulai besok saya lantik hanya satu ingin berbakti dan mengabdi di lingkungan TNI Polri dan berhasil menjadi perwira.”

Lalu kenapa seolah-olah SBY sampai “tega mengorbankan” karir militer nan cemerlang Mayor Agus, dengan tujuan sebuah Tahta Ibukota?

Untuk seorang negarawan sekaliber SBY, tak mungkin ia melupakan kata-katanya sendiri. Ia dikenal sebagai seorang perwira yang cerdas, semenjak pertama kali menjejakkan kakinya di Lembat Tidar. Di lembaga pendidikan kemiliteran ini, kepribadian dan intelektualitas Susilo Bambang  Yudhoyono sangat menonjol. Itu ditandai dengan diraihnya berbagai penghargaan atas prestasinya seperti Bintang Kepribadian “Kartika Tanggon Kosala” (tahun 1970,1971 dan 1972), Bintang Intelek “Kartika Ati Tanggap” (tahun 1971-1972) dan Prestasi Tertinggi Gabungan Mental, Fisik dan Intelek “Tri Sakti Wiratama” tahun 1973.

Tak heran jika akhirnya Sus –demikian ia akrab dipanggil oleh orang tuanya-  menamatkan pendidikan militernya dengan lulusan terbaik Akabri Darat pada tahun 1973 dan memperoleh penghargaan tertinggi Bintang Adhi Makayasa. Presiden Soeharto menyerahkan dan menyematkan langung lencana itu kepadanya.

Mendiang Jenderal Leonardus Benny Moerdani pernah berkata bahwa Susilo Bambang Yudhoyono adalah seorang perwira muda yang cerdas dan akan menjadi bintang satu saat nanti. Dalam “melihat” perjalanan SBY ke depan, Moerdani tidak sedikitpun membuat kekeliruan. Sejarah mencatat perjalanan karir SBY.

Di belantara politik, SBY sudah malanng melintang dan sarat dengan pengalaman. Beberapa posisi menteri ia emban, hingga naik menjadi orang nomor satu di Republik Indonesia. Tak mungkin ia bisa melakukan blunder seperti “mengorbankan” karir Mayor Agus yang ia banggakan dan impikan untuk menyandang empat bintang di pundaknya.

Sebagai seorang tentara, Susilo bangga dengan apa yang telah diajarkan oleh militer dalam banyak aspek, yaitu tugas, kehormatan dan negara.

Militer merupakan  sebuah  pendidikan  yang  ingin  ia bagikan  pengalamannya   kepada orang lain. Memiliki latar belakang militer justru dapat membantu, bukan menghambat pembangunan bangsa. Demikian ia mencintai ketentaraan.

Itulah sebabnya SBY menekankan tidak boleh ada taruna yang jika lulus menjadi perwira, bercita-cita menjadi pejabat ataupun birokrat. SBY sangat benar dalam hal itu. Tentara harus akrab dengan barak dan bukan kursi mahal di kantor-kantor pejabat.

Merupakan persoalan pelik untuk  memecahkan teka-teki kenapa Agus dan bukan Ibas, atau yang  lainnya. Namun mungkin sedikit ada pencerahan jika kita menyelami kata-kata politisi senior Ruhut Sitompul.

Menurut Ruhut, SBY terpengaruh orang-orang di Partai Demokrat yang mendorong Agus untuk menjadi cagub DKI. Menurutnya, upaya mendorong Agus sebagai cagub DKI sudah muncul sejak lama.

“Kok mau mendengarkan penjilat memensiunkan anaknya dengan pangkat mayor? Janganlah karena ambisi politik yang di Demokrat itu Agus dikorbankan. Dari dulu, penjilat Bapak, yang ingin aku dicopot dari koordinator, menginginkan Agus. Partai lain yang baru datang ikut-ikutan,” demikian Ruhut, seperti dilansir dari Kompas.

Apakah benar SBY memang termakan pembisik-pembisik yang ada di sekitarnya?

Ataukah ada pertimbangan pribadi lain yang sudah dipikirkan matang-matang oleh SBY sebelum mengajukan Mayor Agus Hendramurti sebagai calon gubernur DKI Jakarta?

Kenapa bukan Ibas atau kader lain yang dipilih?

Terlalu banyak pertanyaan seputar pecalonan Agus. Pertanyaan-pertanyaan yang tentunya hanya bisa dijawab oleh SBY sendiri.

Saat kecil, Susilo Bambang Yudhoyono adalah anak yang penuh dengan limpahan kasih sayang dari orang tuanya. Arti nama “Susilo Bambang Yudhoyono” sendiri diberikan oleh ayahnya yang bermakna “kesatria santun yang memenangi setiap peperangan”.

Sejatinya SBY pun melimpahkan kasih sayang yang luar biasa untuk semua anak-anaknya, seperti yang ia terima dari orang tuanya. Pun keputusan mencalonkan Mayor Agus dilakukan dengan perhitungan matang, berlandaskan kasih sayang seorang ayah pada putranya.

Sebab itu, apapun hasil pengumuman Poros Cikeas, pasti telah diperhitungkan dengan sangat matang. Namun seandainya bisa memilih, mungkin akan lebih elok jika Mayor Agus, nantinya akan dipanggil sebagai Jenderal Agus Harimurti Yudhoyono…..

 

 

 

 

BAGIKAN

LEAVE A REPLY