Selfie dengan pemandangan tsunami. Foto: The Guardian

@Rayapos | Jakarta – Tsunami di Banten menarik wartawan asing meliput. Antara lain, media massa Inggirs The Guardian. Ternyata, Guardian juga mengamati perilaku manusia di situ.

Terutama, orang yang datang menonton korban bencana, lantas selfie di situ. Ketertarikan media Inggris tersebut, karena mereka yang selfie tidak sedikit. Khususnya wanita.

Bahkan, saat mereka yang selfie diwawancarai Guardian, terus terang mengatakan, mereka datang dari jauh. Ada yang dari Jakarta. Memang tujuannya bukan hanya selfie, tapi mereka juga selfie.

Mungkin, dalam pandangan wartawan Guardian, itu tidak pantas. Ratusan orang tewas, ribuan terluka, harta benda lenyap. Semuanya sedih. Masak, orang selfie di tengah kesedihan?

Guardian menyoroti sejumlah warga yang mengabadikan foto selfie mereka dengan latar belakang ‘pemandangan’ lokasi yang hancur diterjang tsunami.

Dalam artikel yang dipublikasikan pada Rabu (26/12/2018), The Guardian mewawancarai warga yang rela menempuh perjalanan jauh menuju lokasi bencana, lantas selfie.

Salah seorang wanita yang mengambil foto selfie di lokasi itu adalah Solihat (40). Dia diwawancarai Guardian. Dia menempuh perjalanan dua jam dari kota Cilegon.

Solihat datang bersama teman-temannya untuk memberikan bantuan berupa sumbangan pakaian untuk korban tsunami.

Apa jawaban Solihat?

“Foto ini nanti saya posting di Facebook. Sebagai bukti, bahwa kami benar-benar di sini dan memberikan bantuan,” katanya, kepada The Guardian.

Ditanya, apakah dia tidak kasihan melihat korban bencana, lalu dia selfie di situ?

“Ketika orang-orang melihat foto kehancuran, mereka sadar, bahwa mereka ada di tempat yang lebih baik,” jawabnya.

Dilanjutkan: “Gambar kehancuran akan mendapatkan lebih banyak ‘like’. Mungkin karena itu mengingatkan orang untuk bersyukur.”

Padahal, berdasarkan laporan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), sampai dengan Selasa (26/12) pukul 13.30 WIB, jumlah korban ribuan orang.

Tercatat, 429 orang meninggal, 1485 luka-luka, 154 menghilang, dan 16.082 orang mengungsi.

Baca Juga:

Status Gunung Anak Krakatau Siaga, Zona Bahaya Jadi 5 Km

Video Prabowo Joget pun Disoal Publik

Ketika Solihat ditanya The Guardian, apakah pantas mengambil foto selfie di lokasi bencana di mana kemungkinan banyak jasad masih belum ditemukan?

Solihat menjawab, semua itu tergantung pada niat.

“Jika Anda mengambil foto selfie untuk pamer, maka jangan lakukan itu. Tetapi jika Anda melakukannya untuk berbagi kesedihan dengan orang lain, tidak apa-apa,” ungkapnya.

Ada lagi, pendatang dari Jawa Tengah. Namanya Valentina Anastasia (18) yang ditemui The Guardian.

Valentina mengatakan, dia dari Jawa tengah berlibur ke Jakarta. Pulangnya mampir ke Banten untuk melihat korban tsunami.

Ia menyatakan, tidak kecewa dengan keputusannya meninggalkan Jakarta tempat dia berlibur dan melakukan perjalanan tiga jam dengan mobil ke Banten.

“Saya ingin melihat kehancuran dan orang-orang yang terkena dampaknya,” katanya.

Ketika ditanya, berapa banyak foto selfie yang dia ambil di daerah itu? Dia tertawa. “Banyak! Untuk media sosial, grup WhatsApp … “.

Sementara itu, korban selamat bernama Bahrudin (40), seorang kepala serikat petani lokal mengaku tidak tertarik dengan turis yang datang hanya sekedar foto selfie.

Ia berulang kali mengucapkan rasa kekecewaannya, ketika ditanya apa pendapatnya tentang aksi turis selfie tersebut.

Terlebih, ketika itu ada seorang perempuan yang mencoba mengambil foto selfie dan tampak berusaha lebih dekat dengan mobil SUV milik Bahrudin yang hancur akibat tsunami. (*)

BAGIKAN