Senukil tentang taktik anti gerilya Ryamizard Ryacudu untuk memukul para teroris

rayapos.com - Ryamizard Ryacudu
Foto: Istimewa

Tak ada cara yang ampuh untuk melawan gerakan kelompok-kelompok teroris yang belakangan ini menebar serangan secara membabi buta, kecuali dengan taktik perang anti gerilya.

Kenapa demikian, karena gaya bertempur para kombatan teroris ini persis mengadopsi strategi gerilya. Mereka menyerang, kemudian lari bersembunyi. Di ASEAN, kebanyakan mereka menerapkan sistem gerilya hutan. Mereka bersembunyi di hutan-hutan Aceh, Poso, kemudian di Filipina juga demikian. Namun di Eropa dan Amerika, gerilya kota lah yang menjadi primadona. Mereka berdiam dan berasimilasi di tengah keindahan London, Paris, New York, Brussels, Turin, serta kota-kota lainnya.

Susah untuk diantisipasi, karena serangan bisa datang kapan dan dimana saja. Setelah itu, mereka hilang bak ditelan kegelapan. Koban pun meregang nyawa di ujung serpihan bom dan pelor yang memang tidak memilih siapa yang bakal diterjang.

Ya, anti gerilya. Tak ada cara yang lebih baik untuk memukul balik para teroris ini. Gerilya dalam pengertian mengajak rakyat semesta untuk ikut bahu membahu dengan tentara dan polisi.

Bukan berarti kita harus bertempur dengan mengangkat senjata. Intinya adalah bagaimana rakyat mendukung aparat dengan cara apa saja seperti membagi informasi, waspada di lingkungan sekitar, mengamati, serta yang terpenting tidak membuka diri untuk dicekoki dengan ideologi-ideologi radikal sesat.

Untuk yang terakhir, memang sudah saatnya pemerintah bergerilya dengan mengganti ulama-ulama radikal yang bergentayangan di mesjid-mesjid, dengan ulama-ulama yang lebih nasionalis seperti dari NU.

Di Indonesia sendiri, tak ada yang lebih mengerti dengan sistem perang gerilya ketimbang Jenderal TNI (purn) Ryamizard Ryacudu. Belantara hutan telah mengajarinya bagaimana bergerilya untuk menghantam musuh-musuh negara.

Tak heran jika Sekjen NATO, Menteri Pertahanan Amerika dan beberapa negara lainnya melemparkan pengakuan tentang kemampuan strategi gerilya ala Ryamizard Ryacudu. Bagi mereka, Ryamizard adalah Bapak Gerilya.

Sebuah pelajaran berharga muncul dari peristiwa penyerbuan kelompok Maute di Kota Marawi Filipina Selatan 23 Mei 2017 silam. Militer Filipina terpaksa masuk ke sebuah zona pertempuran gerilya kota, ketimbang perang modern dengan penembakan sporadis dari bibir pantai,  hujan artileri dari jarak belasan atau kilometer, ataupun gelombang serangan udara,

Sebaliknya, berburu dari satu rumah ke rumah lainnya harus dilakukan untuk mengejar dan mengusir gerombolan Maute yang hanya berjumlah sekitar 700 penempur. Tak heran hingga hari ini, sudah tiga minggu tentara Filipina belum mampu menguasai kota kecil berpopulasi 200 ribu jiwa tersebut. Bukan karena militer Filipina kurang hebat, atau perimbangan senjata yang kalah. Tidak. Mereka hanya tidak siap dengan konsep gerilya yang diterapkan oleh para teroris.

Kembali ke tanah air, salah satu taktik gerilya yang dalam dua tahun belakangan ini dikembangkan oleh Ryamizard Ryacudu adalah konsep Bela Negara. Banyak tantangan dilewati untuk membuat konsep ini diterima. Bahkan, ia ditertawakan ketika pertama kali memperkenalkan Bela Negara.

Namun kini terbukti, pengkaderan masyarakat lewat program ini, mulai terbukti sebagai senjata ampuh untuk melawan radikalisasi barbar yang meneror tidak hanya Indonesia, tetapi seluruh dunia.

Menurut Ryamizard, Bela Negara adalah Pancasila. Bukankah itu yang bangsa Indonesia perlukan?

Dahulu, ada penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). Kini entah kemana program itu pergi. Lantas di setiap sekolah menengah, semua murid harus menghafal 36 butir Pancasila. Kini, jangankan butir-butir itu, lagu nasional pun tidak ada lagi dalam memori millenium mereka.

Bela Negara akan membawa kembali semua nilai-nilai luhur Pancasila. Berkali-kali Ryamizard harus berteriak bahwa Bela Negara bukan wajib militer. Kita saja yang kurang bisa percaya. Padahal, Bela Negara adalah Pancasila dan bukan yang lain.

Sudah saatnya kembali pada Pancasila sebagai dasar untuk membangun. Pancasila harus jadi fondasi. Jangan lagi di utak-atik untuk memuaskan nafsu keji. Jika Pancasila menjadi dasar terhakiki, setinggi apapun bangunan yang akan berdiri pasti tidak akan pernah goyah hingga akhir nanti.

Penyesatan ideologi harus dilawan lagi dengan ideologi sejati. ISIS tidak akan pernah berkutik, jika Pancasila benar-benar diresapi oleh semua anak negeri.

Pancasila tidak pernah berbicara perbedaan. Yang membeda-bedakan jelas hanya orang yang tak ber-Tuhan. Pancasila mengajar menjunjung tinggi Sang Pencipta sebagai acuan, kemudian kemanusiaan, persatuan, hikmat dan kebijaksanaan, serta keadilan. Sebagai fondasi bangsa, inilah yang paling sempurna.

Jika Bela Negara adalah Pancasila, kenapa itu harus ditentang?

Rakyat Indonesia harus menerjang semua pemahaman yang tak sejalan dengan Pancasila.

Ryamizard sangat benar. Salah satu taktik anti gerilya untuk memerangi radikalisme dalam jubah berbagai kelompok teroris, adalah Bela Negara. Di sana, Pancasila akan kembali hidup selamanya untuk membela kehormatan Ibu Pertiwi dari berbagai bentuk ancaman.

Bela Negara dan Pancasila, adalah milik kepunyaan kita!

Comments

comments