Siap Dipecat, Sangadji Serukan Dukung Kotak Kosong

@Rayapos | Ambon: Dalam rentang 3 periode terakhir pemerintahan di Maluku Tengah (Malteng) dikuasai oleh rezim Tuasikal. Karenanya, rezim ini sudah harus dihentikan kekuasaannya dalam ajang Pilkada Serentak tanggal 15 Februari 2017 nanti.

Hal ini ditegaskan fungsionaris DPP Partai Golkar, Hamzah Sangadji kepada wartawan, di Ambon, Rabu (25/1). Karena tekad bulatnya ingin mengakhiri rezim Tuasikal di Maluku Tengah itulah, mantan anggota DPR RI beberapa periode ini menyatakan siap dipecat. ”Silahkan partai mengambil kebijakan, saya siap kena sanksi bahkan hingga dipecat sekalipun,” ujarnya.

Dijelaskannya, keberpihakan terhadap rakyat merupakan akhir dari sebuah kekuasaan yakni kesejahteraan dan keadilan bagi rakyat. Dalam pandangan dan penilaiannya, dukungan politik dari seluruh parpol yang ada di Maluku Tengah (Malteng) kepada Abua Tuasikal, menunjukkan demokrasi mengalami kelumpuhan. ”Apakah betul demokrasi atau orang-orang di Maluku Tengah telah kehilangan akal sehat? Sebab dalam proses demokrasi yang berlangsung, ternyata semua parpol  memberikan dukungan kepada salah satu calon. Apa betul kalau demokrasi ini berkualitas dan mengarah pada tujuan kesejahteraan? Saya rasa bukan begitu dan ini bukan rahasia lagi,” jelasnya.

Menurutnya, dengan tidak adanya kemajuan di Malteng selama ini, mengindikasikan pemimpin yang tidak berkualitas. ”Saya mantan anggota DPR RI dan saya tahu regulasi. Selama 15 tahun kepemimpinan Tuasikal yakni sejak tahun 2002 Malteng dipimpin Abdullah Tuasikal hingga tahun 2012. Tuasikal Abua melanjutkan kepemimpinan adiknya, alokasi DAK/DAU untuk Malteng berjumlah Rp 23 trilyun,” timpalnya.

Bermodalkan alokasi anggaran sebesar Rp 23 trilyun itu, terangnya, maka sangat mustahil jika dikatakan Maluku Tengah tidak bisa maju dan berkembang. ”Mustahil, jika Malteng tak bisa maju. Ini pasti ada yang salah. Ini soal kompeten, karakter pemimpin. Oleh karena itu, kabupaten ini harus segera diselamatkan,” tambahnya.

Selain itu, tambahnya, jika kekuasaan terlalu lama berada dalam sebuah genggaman, maka kecenderungan untuk menyimpang menjadi besar. ”Penyimpangan terjadi lantaran kekuasaan kelamaan dipegang,” pungkasnya.

Comments

comments

LEAVE A REPLY