Gubernur DKI Anies Baswedan (FOTO: RAYAPOS/KEMAL MAULANA)

@Rayapos | Jakarta – 15 kepala daerah terang-terangan mendukung pasangan Joko Widodo-Maruf Amin. Berbeda dengan 15 Kepala Daerah tersebut, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan justru belum menyatakan dukungannya.

Meskipun dirinya saat ini terbilang dekat dengan pasangan nomor urut 2 yakni, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.

Di lain sisi, Anies pernah mati-matian membela Jokowi dalam Pilpres 2014. Teranyar Anies selaku Gubernur DKI Jakarta pun terlihat aktif mengawal berbagai kegiatan Jokowi yang digelar di wilayah DKI.

Baca juga:

Fadli Zon Komentari Video Sandiaga Langkahi Makam Pendiri NU

Sandiaga Didemo Santri di Jawa Timur Gara-Gara Ini

Lantas kemanakah arah dukungan Anies pada Pilpres 2019 mendatang? Beranikah ia yang tidak memiliki partai, secara terbuka menyatakan dukungannya untuk Prabowo-Sandi?

Berdasarkan catatan Rayapos, Anies belum pernah mendampingi kegiatan Prabowo atau Sandiaga Uno yang kini tengah sibuk berkampanye. Padahal kegiatan itu bisa saja dilakukan Anies diluar jam kerja gubernur.

Pakar komunikasi politik Universitas Pelita Harapan, Dr. Emrus Sihombing menjelaskan, sosok Anies adalah aktor sosial yang sangat cair, sehingga dia menyebut arah politik Anies bisa saja berubah seketika.

“Saya menjelaskan Anies adalah aktor sosial yang cair. Yang sangat cair artinya bisa berubah,” kata Emrus saat dihubungi Rayapos, Senin (12/11/2018).

Hal itu disampaikan Emrus tidak lepas dari rekam jejak politik Anies sejak 2014 lalu, dimana Anies menjadi pendukung Jokowi yang kemudian mengkritik keras sosok Prabowo Subianto.

“2015 dia (Anies) memutuskan mendukung Joko Widodo, dan kemudian menyindir atau mengkritik Prabowo. Itu adalah fakta pandangan beliau, silahkan dibuka di Youtube,” terangnya.

Emrus memaparkan, di Pilkada DKI tahun 2017, setelah tidak lagi menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies merapat melalui Gerindra dan PKS yang akhirnya dicalonkan menjadi Gubernur DKI Jakarta mendampingi Sandiaga Uno.

Dari sini Emrus menyebut, tidak ada jaminan Anies bakal tetap berada di dalam garis linear. Sebab kata Emrus, bisa saja Anies kembali ‘move on’ mendukung Jokowi meskipun sudah dijadikan Gubernur DKI Jakarta oleh Prabowo.

“Kita lihat saja perkembangan bisa saja dia move on. Move on nya itu atas dasar apa saya kira hanya Anies Baswedan lah yang tau itu,” kata dia.

Dikatakan Emrus, sebagai politisi Anies bakal bertindak sesuai kepentingan politiknya. Demi memuluskan kepentingan politiknya, bisa saja Anies berbalik arah politik.

“Coba kita lihat 2014 begitu dia, kekehnya dengan Joko Widodo, begitu dia mengkritiknya Prabowo akhirnya merapat, apakah dia bakal memberikan dukungan terhadap Joko Widodo, ya kalau saya melihat dari prilaku politiknya selama ini, bisa saja terjadi,” terangnya.

Dukungan Anies Ke Prabowo Sama Seperti Ahok

Emrus berpendapat, Prabowo pernah menerima realita pahit saat menjagokan Jokowi-Ahok dalam Pilkada DKI 2012. Memasuki Pilpres 2014 Basuki Tjhaja Purnama (Ahok) justru terkesan mendukung sahabatnya Jokowi hingga berbuntut keluarnya Ahok dari Gerindra kala itu.

Memurut Emrus hal itu adalah realita yang terjadi. Namun kata Emrus, perpisahan itu terjadi, lagi-lagi karena adanya kkepentingan politik yang berbeda.

“Karena tidak ada teman sejati dan tidak ada musuh abadi dalam politik, yang ada adalah kepentingan, dan kepentingan itu bisa berubah,” tegasnya.

Lantas apakah Prabowo bakal kembali menerima realita seperti ini dari Anies seperti apa yang didapatkannya dari Ahok?

Menurut Emrus, hal itu bisa saja terjadi dilakukan oleh Anies.

Bahkan dia menyebut kemungkinan itu sangat besar dilakukan oleh Anies, sebab menurutnya Anies adalah sosok politisi yang sangat cair.

“Anies Baswedan memanglah politisi yang sangat cair seperti yang saya jelaskan tadi, karena di mata saya, Anies adalah politisi. Politisi berbasis kepada kepentingan, kepentingan bisa berubah, maka kepentingan akan menggaet prilaku politiknya itu,” pungkasnya.

BAGIKAN