Sisi lain sosok Kartini yang diperankan oleh Dian Sastro

rayapos.com - sosok kartini
Poster film Kartini (Foto:Wikipedia)

@Rayapos.com | Jakarta: Sosok Kartini (Dian Sastrowardoyo) yang nampak kalem, lembut ternyata memiliki sisi lain yang mungkin belum sebagian orang tahu. Dia lincah dan selalu bertanya, tak heran orang-orang di sekitarnya memanggilnya Trinil–burung kecil yang lincah dan selalu mengeluarkan suara nyaring.

Dia yang terkesan tomboy, tak segan memanjat tangga untuk duduk di bagian atas salah satu tembok pembatas rumah bersama kedua adik perempuannya, Kardinah (Ayushita Nugraha) dan Roekmini (Acha Septriasa).

Bahkan, ketika di pantai dia sampai harus mengangkat kainnya sedikit lebih tinggi agar bisa berlari kencang menantang ombak.

Sosok Kartini sedari kecil terkungkung dalam rumah, dijauhkan dari sosok ibu kandungnya, Ngasirah (Christine Hakim) karena bukan berasal dari kalangan bangsawan.

Ngasirah harus menerima kenyataan bahwa sang suami, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat (Deddy Sutomo) menikah lagi dengan Raden Ayu Moeryam (Djenar Maesa Ayu), putri seorang raja Madura, demi bisa menjadi Bupati Jepara.

Kartini yang dikenal begitu cerdas di sekolah dasar tak lagi bisa mengenyam pendidikan ke jenjang lebih tinggi karena harus dipingit, menunggu bangsawan melamarnya untuk menjadi Raden Ayu.

Dia diam saja menghadapi semua itu? Tidak. Memanfaatkan kedekatan dengan Rosa Abendanon-Mandri, Stella Zeehandelar, para wanita Belanda, Kartini “berontak”, lewat pemikiran yang ia tuangkan dalam tulisan-tulisannya. Tulisan-tulisan itu dimuat dalam majalah Belanda, De Hollandsche Leile.

Sekalipun akhirnya seorang wakil Bupati Rembang yang menunggu waktu menjadi bupati, Raden Adipati Joyodiningrat (Dwi Sasono) mempersuntingnya, tak berarti keinginan Kartini mengubah nasib perempuan melalui pendidikan sirna. Ada syarat yang harus dipenuhi Adipati untuk Kartini.

Hadangan dari dalam

Sutradara Hanung Bramantyo berusaha mengingatkan khalayak bahwa hambatan dalam kehidupan seseorang tak melulu dari orang luar, melainkan bisa dari pihak keluarga sendiri.

Pun bagi Kartini. Hambatan mengenyam pendidikan layaknya perempuan di negeri Belanda lalu kesetaraan kedudukan perempuan dan laki-laki tak hanya dari orang Belanda, tetapi juga berasal dari keluarga, terutama saudara laki-laki, ibu tiri dan kerabatnya.

“Ternyata obstacle-nya Kartini, bukan orang Belanda, tetapi justru malah kakaknya sendiri, keluarganya dan lain-lain,” tutur Hanung.

Hal serupa pernah diungkap sutradara Azhar Kinoi Lubis melalui “Surat Cinta untuk Kartini” pada 2016 lalu.

Hanung memandang ini sebagai sebuah potret tragedi yang perlu ditampakkan pada khalayak.

“Dia adalah potret sebuah tragedi. Dia dipenjara dalam rumahnya sendiri. Melawan keluarganya sendiri. Kecerdasannya dimandulkan, kepercayaan dirinya di pangkas,” kata Hanung.

“Ini saatnya kita membuat film biopik, karena banyak sekali-kali data yang dulu tidak boleh beredar sekarang bisa beredar. Film Kartini ini, sebagai sebuah potongan film biopik modern dengan tafsir yang sangat kekinian,” sambung dia.

Sedikit banyak, buku “Panggil Aku Kartini Saja” karya sastrawan Pramoedya Ananta Toer, membantu Hanung menghadirkan karakter Kartini dalam film biopik Kartini.

Selain itu, dia melengkapi referensinya dengan bacaan “Habis Gelap Terbitlah Terang, surat-surat Kartini, “Kartini: Sebuah Biografi” karya Siti Soemandari, serta buku yang berisi terjemahan surat-surat Kartini karya Joost Cote berjudul Kartini: Emansipasi.

Layaknya dalam film Kartini versi sebelumnya, penonton akan disuguhkan sejumlah tradisi masyarakat Jawa di masa itu terutama tata krama pada orangtua serta konsep hidup berusaha menghilangkan prasangka buruk dan mengambil hal yang baik.

Dari sisi bahasa, penonton tak akan banyak mengerutkan dahi, karena sekalipun para karakter memamerkan kemahirannya berbahasa Jawa dan Belanda, tersedia teks dalam Bahasa Indonesia.

Film Kartini (2017) yang diproduksi Legacy Pictures bekerja sama dengan Screenplay Productions itu juga didukung sejumlah selebriti tanah air lainnya seperti Denny Sumargo, sebagai Slamet Sosroningrat, kakak Kartini yang cukup menentang pemikiran dan usaha Kartini meningkatkan kedudukan perempuan dalam masyarakat.

Kemudian, Adinia Wirasti (sebagai Soelastri, kakak Kartini) dan Reza Rahadian (sebagai Sosrokartono, kakak Kartini) dan Nova Eliza (sebagai Ngasirah di masa muda).

“Kartini” akan tayang di bioskop-bioskop tanah air 19 April mendatang. [Antara]

Comments

comments