Kolase: Rayapos/DWO

@Rayapos | Jakarta – Orang yang ditangkap KPK bagai main drama. Aktris 1990-an Inneke Koesherawati menangis ditangkap KPK, karena diduga menyuap Kepala Lapas (Kalapas) Sukamiskin Bandung Wahid Husen. Sebaliknya, Wahid malah tertawa-tawa.

Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Saut Situmorang, membenarkan Wahid Husen ketawa-tawa. Sebab, Wahid yang diduga menerima suap Rp 500 juta dari suami Inneke, Fahmi Darmawansyah, dianggap Saut, sudah terbiasa menerima suap.

“Ada kesan begitu. Makanya, dia santai-santai saja ngomongnya. Malah beberapa kali ditanya (oleh penyidik KPK) dia ketawa-ketawa,” ungkap Saut.

Sebaliknya, Inneke menangis. Dia selaku tersangka tidak ditahan. Karena diduga dia mengetahui penyuapan oleh suaminya, Fahmi, kepada Wahid. Tujuan suap, agar Fahmi dapat sel mewah di Lapas Sukamiskin.

 

KPK menetapkan, Fahmi dan Inneke tersangka penyuapan. Fahmi menyuap Kalapas Sukamiskin Wahid senilai Rp 500 juta. Agar dapat kamar mewah di bui. Dan, Inneke diduga membantu penyuapan.

Fahmi mendekam di bui Sukamiskin, karena kasus korupsi proyek Bakamla (Badan Keamanan Laut RI) pada 2017. Dia menyuap pejabat Bakamla. Kini menyuap Kalapas Sukamiskin.

Baca Juga:

Sabtu (21/7/2018) malam, Inneke diamankan KPK dari kediamannya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Dia diperiksa beberapa jam di Gedung KPK. Lantas, boleh pulang.

Saat dia meninggalkan Gedung KPK, dicegat banyak wartawan, Sabtu (21/7/2018) pukul 21.00. Tampak, Inneke menangis. Dia ogah-ogahan menjawab pertanyaan wartawan. Segera, menuju mobil berpelat nomor B 15 TW.

Kepada wartawan, dia hanya mengatakan: “Sudah ya, sudah ya….” Padahal, aneka pertanyaan dilontarkan padanya.

Inneke diamankan KPK di kediamannya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu dini hari sekitar pukul 00.30 WIB. Sedangkan, suami Inneke, Fahmi, diamankan di Lapas Sukamiskin, Bandung.

KPK menduga Fahmi sengaja menyuap Kalapas Sukamiskin Wahid Husen untuk mendapatkan fasilitas di sel. Juga, kemudahan meninggalkan lapas.

KPK mengamankan uang total Rp 279.920.000 dan 1.410 dollar Amerika AS dari ruang Kalapas Wahid.

Selain itu, ada dua mobil Wahid yang diamankan KPK karena diduga terkait suap, yaitu Mistubishi Triton Exceed berwarna hitam dan Mitsubishi Pajero Sport Dakkar berwarna hitam.

Wahid Ketawa Karena Suap Sudah Biasa

Hebatnya, menurut penyidik KPK, saat Wahid diinterogasi, malah banyak ketawa. Padahal dia ditetapkan sebagai tersangka suap.

Menurut Wakil Ketua KPK Saut Situmorang, suap kepada Wahid selaku Kalapas, seolah sudah biasa terjadi.

“Ada kesan, suap di sana (Lapas Sukamiskin) sudah biasa. Justru, aneh kalau tidak dijalankan sama si pendatang (narapidana) barunya,” kata Saut saat konferensi pers di Gedung KPK Jakarta, Sabtu (21/7/2018).

Menurut Saut, Wahid terkesan santai saat diperiksa. Malah eberapa kali tertawa. “Ada kesan begitu makanya dia santai-santai saja. Malah beberapa kali ditanya, ketawa-ketawa,” ungkap Saut.

KPK menetapkan empat tersangka suap pemberian fasilitas, pemberian perizinan ataupun pemberian lainnya di Lembaga Pemasyarakatan Klas 1 Sukamiskin Bandung.

Empat tersangka itu, yakni Kalapas Sukamiskin Wahid Husein (WH), Hendry Saputra (HND) yang merupakan staf Wahid Husein, narapidana kasus korupsi Fahmi Darmawansyah (FD).

Selain itu, Andri Rahmat (AR) yang merupakan narapidana kasus pidana umum/tahanan pendamping (tamping) dari Fahmi Darmawansyah.

Wahid Husein dan Hendry Saputra diduga sebagai penerima suap. Sedangkan Fahmi Darmawansyah dan Andri Rahmat diduga sebagai pemberi.

KPK menduga, Kalapas Sukamiskin menerima pemberian berupa uang dan dua mobil dalam jabatannya sebagai Kalapas Sukamiskin sejak Maret 2018. Itu terkait pemberian fasilitas, izin luar biasa. Itu melanggar Undang-undang.

Dalam konferensi pers, KPK menampilkan video yang menunjukkan salah satu sel atau kamar di Lapas Sukamiskin. Juga, terpidana korupsi Fahmi Darmawansyah.

Dalam kamar Fahmi ada pendingin ruangan (AC), televisi, rak buku, lemari, wastafel, kamar mandi lengkap dengan toilet duduk, water heater, kulkas, spring bed mewah.

Fahmi yang merupakan Direktur PT Merial Esa telah dieksekusi ke Lapas Sukamiskin pada 31 Mei 2017.

Berdasarkan putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Fahmi divonis dua tahun delapan bulan penjara. Denda Rp150 juta subsider tiga bulan kurungan. (*)

BAGIKAN