Foto: Ilustrasi

@Rayapos | Bandung – Terdakwa utama kasus video porno yang melibatkan anak-anak di Bandung, Faisal Akbar dituntut tujuh tahun penjara. Vonis tersebut dijatuhkan dalam sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Klas 1 Bandung, Senin (6/8/2018).

Sedangkan untuk lima pelaku lainnya antara lain SM alias Cici, A, IO, S, dan H, hanya dituntut lima tahun penjara.

Persidangan yang berlangsung tertutup ini tidak memperbolehkan wartawan masuk ke dalam ruang sidang. Seusai persidangan, tim kuasa hukum terdakwa, I Made Agus Rediyuadana mengatakan bahwa Faisal dituntut hukuman penjara selama tujuh tahun.

“Tadi agendanya tuntutan terdakwa dan ada beberapa terdakwa oleh JPU. Faisal itu (tuntutannya) tujuh tahun,” ungkap Made.

Dalam kasus video porno anak tersebut, Faisal berperan sebagai sutradara serta perekam adegan video asusila yang melibarkan anak dibawah umur untuk dijual ke pemesan di Rusia.

SM berperan sebagai perekrut, A dan IO berperan dan merekrut, H yang turut serta membiarkan, serta S yang menyuruh anak kandungnya berinisial DN melakukan hal tersebut.

Baca Juga:

Merah-Putih Terbalik di Balaikota Palopo

100 Prajurit Paskhas TNI AU Berangkat ke Lombok

Kendari begitu, Made mengaku keberatan dengan tuntutan yang dijatuhkan JPU. Tim kuasa hukum kemudian mengajukan pledoi yang akan digelar pekan depan.

“Langkah minggu depan pledoi. Ada pemasangan pasal tidak tepat dalam tuntutan itu, masalah trafficking. Kita menyatakan itu salah, dalam penerapan UU perlindungan anak dan UU ITE pendapat kita seperti itu,” jelasnya.

Kasus tersebut berawal dari pertemanan Faisal dengan komunitas Rusia di Facebook bernama Vika. Ia mengirimkan foto porno berupa editan antara seorang anak dan perempuan dewasa pada akhir bulan April, kiriman ini pun mendapatkan pujian dari komunitas.

Setelah mengirimkan foto dan mendapat komentar positif, terdakwa Faisal mendapat tawaran dari R yang mengaku orang Kanada untuk membuat video mesum. Ia menyanggupi tawaran itu dan meminta bantuan untuk mencarikan anak laki-laki kepada Cici dan IM.

Mereka kemudian membuat video tersebut pada Mei dan Agustus 2017 di dua hotel di Kota Bandung. Setelah video itu selesai dibuat, tersangka Faisal mengirimkan video itu kepada R (orang Kanada) melalui media sosial Telegram dan memperoleh imbalan uang.

BAGIKAN