Penggawa Liverpool, Sadio Mane

@Rayapos | Jakarta – Penggawa Liverpool, Sadio Mane mengungkapkan bahwa pilihannya menekuni sepak bola sebelumnya mendapatkan tentangan dari orang tuanya. Ia mengisahkan dahulu diminta untuk menjadi guru.

Sebagaimana dilansir laman OneFootball, Kamis (13/9/2018), orang tua Mane menilai menjadi pemain sepak bola tidak memiliki masa depan. Mereka juga menyebut menekuni olahraga ini hanya buang-buang waktu.

“Saya lahir di sebuah desa yang tidak pernah melahirkan pemain yang tampil di kejuaraan besar,” ujar Mane saat melakukan sesi wawancara dengan Bleacher Report.

Mane lahir disebuah desa kota bernama Sedhiou. Butuh perjalanan darat sepanjang enam jam dari Sedhiou menuju ibukota Senegal, Dakar. Kendati begitu, dia tetap memperjuangkan pilihannya dan mengejar impiannya di sepak bola.

“Saya ingat saat saya kecil, kedua orang tua saya merasa kalau saya seharusnya bersekolah untuk menjadi guru. Mereka berpikir saya hanya membuang waktu (bermain bola) dan saya tak akan bisa berhasil di sepakbola.”

Baca Juga:

Guardiola Ingin Kembali ke Barcelona, Koq Bisa?

Marquez, Pedrosa dan Rossi Takjub dengan Pengembangan Ducati

“Orang tua saya tidak yakin karena sangat jauh jaraknya dari ibukota dan tak pernah satupun ada pemain sukses dari daerah kami. Jadi mereka menentang keinginan saya, sampai saya akhirnya mendapat kontrak profesional pertama,” tuturnya.

Perjalanan Mane menuju posisi yang dia miliki saat ini jelas tidak mudah. Sejak awal meniti karier di Senegal banyak tantangan dan keraguan dia hadapi. Tapi semua dia patahkan dengan penampilan di atas lapangan.

Seperti diketahui, Senegal pernah punya banyak pemain top dunia yang menghiasai di liga-liga top Eropa. Beberapa yang layak disebut di antaranya adalah El Hadji Diouf, Henri Camara, Papiss Cissé, dan Papa Bouba Diop.