Tiga tahun lagi, Amerika dan US Dolar akan jatuh ke jurang kehancuran

Foto; You Tube
Foto; You Tube

Prediksi mengenai masuknya mata uang China –Yuan- ke dalam keranjang mata uang IMF (special drawing rights), benar menjadi kenyataan November 2015 silam. Meski langkah itu “belum” mengguncang dunia secara total, bisa saya umpamakan keadaan ini seperti suasana yang tenang sebelum munculnya badai (calm before the storm).

Sekarang mari lihat rangkaian kejadian di dunia akhir-akhir ini. London dilanda teror. Beberapa orang ditembak dan ditusuk, sebelumnya juga terjadi di Brusel, Belgia dan di Paris, Perancis. Di Amerika Serikat antara tahun 2014 hingga 2016, teror menghantam Ferguson, Missouri, Baltimore, Maryland, Harney Basin, Oregon, New York, Dallas dan beberapa kejadian setelah Donald Trump menjadi Presiden.

Sejak rontoknya komunis, terorisme merupakan symbol dampak kesenjangan yang terjadi akibat paham kapitalisme, liberalisme dan neo kapitalisme dan neo liberalisme yang merajalela. Yang kaya akan menjadi sangat kaya sedangkan yang miskin akan semakin miskin, termasuk termajinal di kancah politik dunia. Jadi teror yang terjadi di dunia dan di Amerika ini menjadi semacam “symptom” dimana akan terjadi gonjang ganjing ekonomi global. Bahkan bisa dikatakan perekonomian dunia berada di ambang kehancuran akibat sistim yang dunia ciptakan sendiri.

Bisa saya katakan sesuatu yang besar –namun sayangnya tidak bagus alias jelek-, akan terjadi dalam waktu dekat ini.

Ingat perusahaan-perusahaan yang bangkrut saat krisis tahun 2008 akibat kerakusan dan tipu tipu bermain di pasar keuangan global, namun harus ditolong pemerintah dengan alasan too big to fail ?

Setelah di bail out pemerintah, mereka sekarang sudah 25 persen lebih kaya dari sebelum krisis dan celakanya menjadi semakin berbahaya.

Di Indonesia juga setali tiga uang. Konglomerat yang ditolong dengan dana APBN yang akhirnya menjadi beban anak cucu di kemudian hari, sekarang sudah 3 kali lebih kaya dibandingkan sebelum krisis.

Di saat bersamaan, banyak perusahaan swasta Amerika makin terlilit hutang. Ada sangat banyak perusahaan di luar perbankan yang di down graded dalam 13 tahun terakhir. Banyak yang bangkrut dan tutup dimana imbasnya adalah meroketnya angka pengangguran.

Kembali ke situasi keuangan global, ada hal hal yang sangat menarik untuk kita cermati tentang peranan mata uang Dolar Amerika yang sudah menjadi mata uang cadangan dunia sejak tahun 1945.

Tahun1980 hutang Amerika masih sebesar 591 miliar dolar.Tiga setengah dekade kemudian, naik mencapai 20 triliun dolar.

Dalam 8 tahun terakhir, akumulasi hutang Amerika mencapai 8,5 triliun dolar. Artinya, sejak 1980 sampai sekarang sudah naik 33 kali lipat dari akumulasi hutang Amerika.  Di lain pihak, dalam enam tahun terakhir jumlah uang beredar melonjak 400 persen mencapai 5 kali lipat.

Apalagi sejak Donald Trump menjadi Presiden yang mencanangkan program pengurangan pajak dan pembangunan infrastruktur. Diperkirakan dalam masa pemerintahannya, Amerika akan menambah hutang sebesar 7 triliun dolar lagi. Sederhananya, sesuatu yang mengerikan akan terjadi.

Apa yang terjadi sejak tahun 1945 sampai sekarang, termasuk sistim moneter dunia pasti akan berubah.

Mari kita lihat dulu sistim moneter dunia yang pernah terjadi dalam sejarah. Tahun 1914 pada saat perang dunia pertama, semua negara di dunia berperang kecuali Amerika. Di negara-negara yang berperang, petani jadi tentara, perusahaan pembuat kapal komersial dan mobil mobil dipaksa membuat kapal perang dan tank, pertanian menjadi ladang peperangan. Semua negara mencetak uang untuk berperang dan membeli barang barang kebutuhan sehari-hari termasuk membeli gandum/makanan dari Amerika. Akibatnya, Amerika menjadi kaya raya.

Kemudian tidak lama berselang terjadi lagi perang dunia kedua. Seluruh dunia melawan Jerman, Italy dan Jepang. Saat itu, semua negara sekutu membayar senjata dan makanan menggunakan emas sebagai alat pembayaran.

Di akhir perang dunia kedua, Amerika sudah menguasai 2/3 dari total cadangan emas dunia. Ekonomi Amerika membesar empat kali lipat. Sejak tahun 1945, Dolar Amerika Serikat menjadi mata uang paling perkasa sejagat raya.

Tahun 1946 setelah 22 hari pertemuan di Bretton Wood, dunia sepakat menerapkan sistim moneter Bretton Wood dimana semua mata uang dunia akan didukung oleh mata uang Dolar Amerika serikat. Saat itu, setiap onz emas dihargai 35 Dolar AS.  Seluruh duniapun yakin bahwa memakai dolar Amerika adalah hal terbaik untuk dilakukan.

Hanya saja, ada kelemahan dari sistem moneter Bretton Woods dimana sistim moneter ini tidak memiliki reserve ratio atau ratio pencadangan emas dan tidak memperhitungkan faktor inflasi.

Adalah Charles De Gaulle, Presiden Perancis yang pertama mensinyalir bahwa sebetulnya Amerika saat itu sudah tidak memiliki emas yang cukup untuk memback up mata uangnya sendiri. Dengan kata lain, Amerika terus mencetak uang, terus menambah hutang dan ironisnya yang membayar hutang-hutang Amerika adalah negara-negara di dunia yang memakai dan menyimpan US dolar. Sangat tidak fair dan berbahaya.

Periode 1959 sampai 1971 Amerika sudah kehilangan hampir 50 persen cadangan emasnya. Akhirnya tahun 1971 presiden Amerika Richard Nixon menghentikan convertibility dari Dolar Amerika ke emas dan bekerja sama dengan IMF untuk menciptakan sistim moneter internasional baru. Sejak saat itu nilai dolar tidak lagi di back up dengan cadangan emas.

Kembali dolar menjadi sangat perkasa. Tahun 1971 sampai 1973 dimana negara anggota OPEC, mulai mengutip harga minyak dalam dolar Amerika. Tak berselang lama, semua harga komoditi dunia akhirnya dikutip dalam dolar Amerika Serikat.

Sejak Bretton Wood kemudian Nixon, dan meletusnya bubble dot.com Amerika yang disusul oleh peristiwa serangan 11 September 2001 sampai krisis 2008, Amerika secara massif mencetak uang terus menerus secara gila-gilaan.

Namun semua ini segera akan berakhir.

Sejarah kuno membuktikan dan masih memiliki relevansi dengan kejadian saat ini. Pada zaman masyarakat kuno (Athena, Yunani kuno) uang koin emas yang dikeluarkan pemerintah saat itu sesuai dengan  harga emas. Namun lama kelamaan ketika negara mengalami krisis, muncul berbagai kecurangan dimana koin emas yang tadinya dari emas murni mulai dicampur perak dan cooper alias tembaga.   Jika dicampur perak dan tembaga, maka bisa menghaislkan 11 koin campuran emas. Akibatnya harga meningkat 10 persen.

Sejarah membuktikan bahwa manakala terjadi krisis dan negara mulai mengalami hyperinflasi dan “de basement” dari mata uangnya, kehancuranlah yang pasti akan terjadi. Amerika sedang mengalami hal ini.

Ini yang disebut sebagai monetary strategy alias strategi moneter dimana pada saat negara mengalami krisis, muncul yang disebut “taktik desperado”. Hal ini jugalah yang dipakai bank sentral Amerika –Federal Reserve- saat ini melalui kebijakan yang kita kenal dengan sebutan Quantitative Easing.

Quantitative Easing (QE) yang dalam pengertian om Google adalah kebijakan moneter unconventional, merupakan kegiatan bank sentral membeli surat-surat berharga pemerintah atau surat-surat berharga lainnya dari pasar, dalam rangka menurunkan suku bunga dan memperbanyak jumlah uang beredar.

Sederhananya, QE adalah menciptakan uang dari antah berantah (out of the thin air).

Sejatinya uang itu merupakan hasil dari kontrak sosial. Pekerja membuat sesuatu yang bernilai dan memperdagangkannya sehingga menciptakan uang. Kalau kita sudah memiliki uang maka kita bisa membayar sesuatu atau mengeluarkan cek untuk membayar sesuatu. Tentunya kalau kita menarik cek, harus ada sejumlah dana yang tersedia di bank.

Lain halnya dengan Federal Reserve Bank (The Fed). Kalau The Fed menulis cek, mereka tidak perlu menyiapkan deposit/simpanan di bank dimana cek akan ditarik.

Yang terjadi saat ini adalah, setiap kali bank sentral Amerika mengeluarkan cek – dengan arti secara harafiah-, sebetulnya uang atau dana itu tidak pernah tersedia. The Fed secara licik menciptakan sihir dengan membuat uang yang asalnya dari antah berantah.

Federal Reserve melakukan hal ini sejak tahun 2013 lalu, dengan tingkat pengeluaran mencapai 85 miliar dolar setiap bulan. Inilah yang dimaksud dengan tipu-tipu Quantitave Easing.

QE sebetulnya dapat dilihat dan dimengerti dalam 4 langkah sederhana sebagai berikut:

  1. Menciptakan uang dari antah berantah dengan maksud untuk membeli Treasury Bonds (obligasi Pemerintah) atau mortgage back securities (surat surat berharga dengan jaminan mortgage/pinjaman perumahan).
  2. Fed mengumumkann kepada bank-bank besar bahwa mereka bersedia membeli misalnya 40 miliar dolar dalam bentuk Treasury Bonds.
  3. Bank-bank ini kemudian bergegas memborong sejumlah Treasury Bonds. Langkah ini yang disebut dengan istilah front running.
  4. Bank-bank ini kemudian berupaya untuk menaikkan harga surat-surat berharga yang mereka miliki dan menjualnya kepada Federal Reserve dengan keuntungan yang sangat besar.

Akhirnya semua happy dan berlanjutlah gawean pat gulipatnya.

The Fed membeli obligasi dengan harga selangit setelah di mark up oleh bank penjual. Terjadilah pembelian asset besar-besaran oleh The Fed, dengan maksud menciptakan image sebuah pasar yang sangat kuat untuk produk surat-surat hutang. Bagi bank, di saat suku bunga sangat rendah, mereka akan memperoleh uang tanpa risiko sama sekali.

Sebaliknya bagi The Fed, “mencetak” setumpuk uang segar tunai dari antah berantah dan masuk ke sistem perbankan, otomatis meningkatkan harga surat berharga obligasi, saham dan termasuk harga harga properti. Dan tentunya terus membuat suku bunga semakin rendah.

Praktek ini di kategorikan sebagai win win solution dan semua pihak memuji, menyukai dan mencintai kebijakan The Fed. Khususnya pihak yang dinamakan pasar (market), termasuk juga buku cek milik The Fed yang saya sebut magis tadi. Uang terus dicetak sebagai stimulus bagi pasar modal.

Tidak perlu untuk menjadi professor ekonomi dulu untuk bertanya sampai berapa lama The Fed akan terus mencetak uang seperti ini dan apa tanggung jawabnya terhadap dampak kebijakan tersebut.

Sebetulnya ini tidak boleh berlanjut karena hanya akan membuat nilai dolar Amerika hancur. Mustinya QE dimaksudkan sesuai fungsinya yaitu untuk melempar uang keluar melalui pintu bank sentral atau The Fed. Namun karena QE diciptakan sebagai produk tipu-tipu, maka satu dusta akan berlanjut ke dusta lain sampai akhirnya pilihan pun habis seiring posisi yang kian terjepit tanpa ada kemungkinan luput dari malapetaka. Inilah posisi Federal Reserve nantinya.

Jika The Fed suatu hari nanti memutuskan untuk menghentikan membanjiri uang secara cuma-cuma ke dunia, kemudian mulai meminta balik uangnya dengan menjual asset-asset berupa surat berharga yang dimilikinya maka bencana alias catastrophe akan terjadi.

Pun ketika The Fed kembali menyerahkan surat-surat berharga yang dibelinya yang keburu membanjiri pasar, maka yang terjadi adalah menukiknya harga surat berharga tersebut.

Saat bersamaan, Amerika akan menjual kembali obligasi pemerintah yang baru dalam jumlah besar ke pasar dan surat-surat berharga yang sebelumnya sudah dibeli oleh Federal Reserve.

Di sisi lain jika The Fed memutuskan tidak mau membelinya lagi, itu sama saja dengan mengurangi suplai uang ke pasar dan hasilnya suku bunga akan melonjak naik, harga surat-surat berharga secara masif akan jatuh termasuk obligasi pemerintah, juga saham saham dan pasar properti.

Maju kena mundurpun kena. Ini berarti, semua yang direkayasa oleh The Fed sejak tahun 2008 akan hancur dalam hitungan bulan. Jadi untuk tetap mempertahankan kemakmuran Amerika maka The Fed hanya akan terus menciptakan uang dari antah berantah. Pat gulipat pun terus berlanjut.

Berhenti mencetak uang maka perekonomian Amerika kolaps. Sementara terus mencetak dolar maka nilainya juga pasti hancur, cepat atau lambat. Sama saja.

Terbukti bahwa selama 20 tahun terakhir The Fed selalu salah dalam setiap perkembangan perekonomian Amerika (Baca buku Casino Economy), khususnya dalam kebijakan menghadapi internet/dot.com bubble, housing bubble. Alasan The Fed waktu krisis subprime mortgage adalah bangkrutnya Lehman brothers.

Sangat menakutkan…

Namun kengerian sesudah menyadari tipu-tipu  QE tidak akan secara otomatis berhenti.

Adalah apa yang disebut sebagai Bilateral Swap Agreement. Pada saat krisis, negara yang mata uangnya diserang dan babak belur, otomatis akan mencari bantuan negara lain yang lebih kaya untuk saling mengikat diri dalam perjanjian yang disebut sebagai ‘bilateral swap agrrement’.

Maksudnya adalah manakala mata uang mereka diserang lagi, maka mereka dapat menarik Dolar Amerika yang disimpan negara penolong sesuai perjanjian bilateral swap agreement untuk membantu mempertahankan mata uang mereka saat diserbu.

Namun yang sangat menakutkan saat ini adalah, hampir 30 negara yang mewakili lebih dari 60 persen dari GDP dunia ternyata membuat perjanjian ‘bilateral swap agreement’ tidak dalam US Dolar, melainkan dalam denominasi mata uang China: Yuan.

Ini yang saya sebut sebagai tindakan secara terang-terangan untuk menghancurkan sekaligus memby pass dolar Amerika.

Sekarang negara-negara terkaya dunia saat ini sudah bersatu dan seutuhnya sudah mengganti mata uang cadangan devisanya dengan tidak lagi memakai Dolar AS. Sistem moneter dunia sudah mulai berganti. Semua bermula dengan matinya Dolar AS.

Ingat bahwa perkembangan ekonomi dunia selalu mengikuti siklus, termasuk di dalamnya siklus sejarah. Bukankah sejarah selalu dan pasti akan berulang?

Perhatikan bahwa setiap 30 sampai 40 tahun sistim moneter dunia selalu berganti. Lihat fakta berikut:

1920-1940    : Gold reserve standard

1940-1972    : Bretton Wood System

1972- sekarang :  Dolar Amerika Serikat menjadi mata uang cadangan devisa Negara Negara dunia yang menjadi jangkar seluruh mata uang dunia.

Namun inilah yang terjadi sejak tahun 2000-an :

  • 2000-2003: Irak mulai menjual minyak dalam Euro. Iraq menjadi negara pertama yang secara aktif mencoba by-pass petrodollar.
  • 2008 saat krisis keuangan dunia : 1,25 triliun Dolar AS menambah base money debt Amerika dan dunia mulai mencermati kejadian ini dan mulai mencari alternatif dalam mengganti dolar sebagai mata uang perdagangan mereka.
  • Iran mengakhirir penjualan minyak dalam Dolar AS.
  • China dengan Negara mitra dagangnya mulai memakai Yuan dan bukan Dolar AS.
  • QE ronde kedua dimana 600 milyar dolar menambah hutang Amerika dan dunia mulai menghindari pemakain Dolar AS.
  • Libya mulai menjual emas dalam dinar.
  • China dan Rusia bypass Dolar AS.
  • Presiden China sesumbar cadangan devisa dalam Dolar AS merupakan produk masa lalu.
  • Cina dan Iran by pass Dolar AS.
  • Cina dan Jepang berdagang langsung tanpa memakai Dolar AS.
  • India dan Jepang by pass Dolar AS.
  • Rusia dan Iran berdagang langsung.
  • Iran menjual minyak dan komoditi lainnya dengan Indian Rupee.
  • China dan Brazil berdagang langsung.
  • QE ronde ke 3 The Fed terus mencetak uang 80 milyar Dolar AS per bulan.
  • China secara utuh by pass Dolar AS
  • Rusia by pass Dolar AS.

 Tebak siapa pemicu semuanya ini?

Dia lah negara dimana Amerika paling banyak berhutang dan saat ini sudah melampaui ekonomi Amerika sendiri yaitu China.

Amerika serikat berhutang kepada China sebesar 1,5 triliun Dolar AS. Melebihi jumlah kumpulan pajak Amerika. Melihat fakta tersebut, China tidak bodoh. Mereka meningkatkan pendidikan dan mulai memainkan permainan serius melalui permainan catur untuk ekonomi global.

China sadar bahwa Amerika sudah terperangkap dengan  hutang yang menggunung dan tahu bahwa “Paman Sam” tidak akan sanggup membayarnya kembali.

Pendekatan mereka saat ini adalah menciptakan perang mata uang dengan Amerika. China sesumbar bahwa mereka ingin menciptakan mata uang dominan yang baru dan menyodok peranan mata uang Amerika Serikat dari cadangan devisanya, sementara di saat bersamaan juga menyelamatkan uang mereka sebesar 1,5 triliun Dolar AS dari Amerika secepat mungkin.

China menganjurkan terciptanya suatu mata uang yang terdiri dari keranjang mata uang yang dikontrol ole IMF, dengan tujuan menyelamatkan perekonomian global dan mencapai stabilitas keuangan dunia. Hal itu berarti, Yuan China harus menjadi mata uang global dengan menciptakan perjanjian dagang dan sekaligus menggantikan Dolar AS.

Dan ini sudah terjadi. Yuan sudah menjadi mata uang keranjang mata uang IMF.  Sementara itu, pengusaha dunia dan investor sudah mulai meninggalkan Dolar AS.

Secara otomatis, ini menjadi ancaman untuk mereka yang menyimpan dan memakai Dolar AS. Dunia sudah bosan dengan Dolar AS dengan suku bunga yang sangat rendah dan menjadikan yuan China sebagai mata uang untuk berhutang. Dunia sedang meminati apa yang disebut dim sum bonds, atau obligasi dim sum.

Dolar AS sudah selesai dan berakhir zaman keemasannya. Lalu apakah Yuan akan di back up, oleh emas lagi?

Apabila ini terjadi maka Yuan China akan segera menjadi mata uang sangat berharga dan terkuat sejagat.

Tidak tanggung tanggung, China saat ini menginvestasikan 90 persen surplus perdagangannya dengan membeli emas. Tahun 2012 cadangan emas Cina tertinggi di dunia diikuti  Australia, Amerika, Rusia, Peru, Afrika Selatan Canada, Mexico, Ghana baru Indonesia.

Dengan demikian stock emas China yang sangat banyak akan membuat Yuan akan sanggup di back up emas, sebagaimana tradisi  lebih dari 5000 tahun sejarah peradaban manusia.

Kalau ini terjadi dimana Dolar AS kehilangan pengaruh dalam kancah panggung percaturan bisnis dunia, maka yang terjadi adalah kebutuhan dasar masyarakat Amerika akan meningkat harganya dua kali lipat. Pajak makin mahal, gaji tetap dan tidak cukup pension untuk dinikmati di hari tua.

Amerika Serikat hancur…

Bukan tidak mungkin banyak orang Amerika lari ke luar negeri, membeli tanah di luar negeri dan paling tidak mulai meyimpan uangnya di luar negeri.

Akhirnya kita harus ingat bahwa pada saat krisis terjadi, kekayaan tidak akan lenyap melainkan hanya berpindah tangan. Selalu demikian sampai kesudahan dunia ini tiba…..

Penulis: Seorang ahli ekonomi, pengamat pasar uang dan penulis buku Economi Ala Casino. Banyak menulis sejumlah artikel di media masa dan yang dipresentasikan dalam konferensi/seminar di tingkat nasional dan internasional serta sejumlah publikasi melalui berbagai jurnal. Isi tulisan adalah tanggung jawab penulis.

Comments

comments

LEAVE A REPLY