Afandi si tukang tempe.

@Rayapos | Batang – Minta suntik mati. Itulah permintaan Afandi (48) warga Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Sebab, dia putus asa penyakitnya 14 tahun tidak sembuh.

Afandi warga Desa Timbang RT 5 /RW 2, Kecamatan Banyuputih, Batang, Jateng. Dia sakit perut dan dada sejak 2004. Aneka pengobatan telah dilakukan. Belum sembuh.

Istri Afandi, Salehati (47) mengatakan, sebelum sakit Afandi bekerja sebagai pengrajin tahu dan tempe. “Sejak sakit dia nganggur,” katanya.

Ketika Afandi menderita, menurut Salehati, ada cobaan lain. Sertifikat rumah dan tanah miliknya dipinjam saudara, digadaikan ke bank untuk membuka koperasi. Kemudian koperasi bangkrut.

“Saudara saya melarikan diri. Sial,” katanya. Persoalan tersebut menambah frustrasi Afandi.

Apa sih, penyakit dia?

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Batang, dr Hidayah Basbeth usai melakukan pemeriksaan medis dan melihat jejak rekam medis menjelaskan: Afandi sakit maag kronis.

“Jadi, ini lebih mengarah ke psikis. Sudah 4 tahun ini dia tidak mau minum obat, hanya ke alternatif,” kata dr Hidayah.

Bagaimana status tubuhnya?

“Ada foto USG, semuanya normal. Penyakit ini bisa sembuh. Ia harus tawakal tidak boleh putus asa,” pungkasnya. Cuma, sekarang belum sembuh.

Baca Juga:

52 PNS Korup Masih Aktif di Pemprov DKI, Komisi B Panggil Disnaker

Novanto Siap Menyanyi, Lagunya Bank Century

Menteri Perdagangan: Indonesia Wajib Impor Beras! Jika Tidak, Bisa Chaos

Hukum Islam

Dikutip dari Republika, eathanasia (taisir al-maut). Intinya: Euthanasia memudahkan kematian seseorang dengan sengaja tanpa merasakan sakit.

“Memudahkan kematian” dalam terminologi Islam tidak dikenal. Dalam ajaran Islam, yang menentukan kematian hanya Allah SWT.

Surah Yunus [10] ayat 49 mengatakan, “…Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun. Dan tidak (pula) mendahulukannya.”

Euthanasia ada dua. Euthanasia positif (taisir almaut al-fa’al). Maksudnya, tindakan memudahkan kematian pasien oleh dokter. Menggunakan alat atau obat.

Contoh: Penderita kanker ganas, sakit luar biasa. Dokter menilai, peluang hidup sangat kecil. Lalu dokter memberinya obat dosis tinggi. Itu menghentikan sakit sekaligus menghentikan hidup.

Euthanasia negatif (taisir al-maut al-munfa’il). Dokter tidak menggunakan bantuan alat atau obat. Tindakannya membiarkan pasien tanpa pengobatan.

Dalam hadis Ibnu Abbas, dikisahkan seorang wanita penderita epilepsi, meminta Nabi Muhammad SAW mendoakannya.

Rasulullah SAW bersabda, “Jika engkau mau bersabar (maka bersabarlah). Engkau akan mendapatkan surga. Dan jika engkau mau aku akan doakan kepada Allah agar Dia menyembuhkanmu….”

Wanita itu langsung menjawab, “Aku akan bersabar”. (Muttafaq Alaih).

Perspektif Kristen

Dikutip dari Scribd, euthanasia permasalahan yang saling bertolak belakang antara Iman Kristen dengan Hak Asasi Manusia.

Dalam Kristen, bunuh diri dilarang. Bahwa, Tuhan pemberikan nafas kehidupan (Kej 2:7). Maka, hanya Tuhan yang berhak mengambil kembali.

Per definisi, euthanasia berasal dari bahasa Yunani. Eu artinya baik. Thanos artinya kematian.

Pada sekitar tahun 400 Sebelum Masehi, ada sumpah yang terkenal: “The Hippocratic Oath”. Dinyatakan seorang Fisikawan Hipokratis Yunani.

Isinya: “Saya tidak akan memberikan obat mematikan pada siapa pun. Atau menyarankan itu pada siapa pun.”

Pada abad ke-14 sampai 20, Hukum Adat Inggris yang dipetik oleh Mahkamah Agung Amerika Serikat tahun 1997.

Isinya: “Lebih jelasnya, selama lebih dari 700 tahun, orang Hukum Adat Amerika Utara telah menghukum aksi bunuh diri individual ataupun dibantu.”

Tahun 1920, terbit buku berjudul “Permitting the Destructionof Life not Worthy of Life”.

Di buku ini, Alfred Hoche, M.D.,Dosen Psikologi Universtas Freiburg, dan Karl Binding, Dosen Hukum Universitas Leipzig, berdebat.

Intinya: Bahwa pasien yang meminta diakhiri hidupnya, harus di bawah pengawasan ketat. Mereka dapat memperolehnya dari pekerja medis. Buku ini mendukung euthanasia.

Dalam Alkitab, ada kasus euthanasia. Walau bentuknya berbeda dengan sekarang.

Dalam Ayub 2:9 dikisahkan, istri Ayub tidak tahan atas penderitaan Ayub. Lalu isteri meminta Ayub, agar mengutuk Tuhan, supaya segera mati. Tapi itu adalah perbuatan dosa. Intinya, dilarang. (*)