Foto: Antara

@Rayapos | Jakarta – Sebagai bentuk protes kepada National Paralympic Committee of Indonesia (NPCI) dan Pemerintah Provinsi, sejumlah atlet penyandang disabilitas asal Jawa Barat menginap di Pengadilan Negeri Kelas 1A Bandung.

Disampaikan Elda Fahmi Nurtaufik (18) bahwa aksi menginap ini dilakukan sebagai respons atas tindakan Pemprov Jawa Barat dan NPCI yang seolah tidak peduli terhadap kasus mereka.

“Kami menuntut keadilan dari pemerintah (Provinsi Jabar) mengenai potongan yang dilakukan NPCI dan ketidakjelasan Pemprov mengenai bonus Peparnas, katanya dapat Rp230 juta untuk (peraih) emas,” ujar Elda di PN Kelas 1A Bandung, Kamis (19/7/2018).

Elda menjelaskan, atlet yang melakukan aksi menginap ini pernah mengharumkan Jabar yang berhasil menyumbangan medali emas, perak, dan perunggu. Menurut dia, atlet peraih medali emas mendapat bonus Rp230 juta, perak Rp73 juta, dan perunggu Rp35 juta.

“Pemerintah nggak ngasih tahu (besaran bonus) hanya emasnya saja. Tapi Pak Aher (Ahmad Heryawan) bicara di Car Free Day, bonus Peparnas akan disamakan. Kami meyakini bahwa pemerintah, pengadilan, dan presiden tidak disabilitas,” tuturnya.

Saat penyelenggaraan Peparnas, Pemprov Jabar menjanjikan bonus bagi atlet disabilitas asal Jabar yang meraih medali emas, perak, dan perunggu. Namun, kata dia, saat menerima bonus, nominal yang masuk ke rekening mereka berbeda dengan apa yang dijanjikan.
Selain itu, lanjut dia, NPCI meminta kontribusi 25 persen dari bonus yang diberikan pemerintah. Elda menilai NPCI telah merenggut harapan para atlet disabilitas ini untuk bisa berlaga pada ajang Asian Para Games 2018.

“Atlet yang enggan memberikan uang kontribusi tidak didaftarkan dalam pemusatan latihan untuk seleksi menjadi kontingen Asian Para Games,” ucapnya.

Baca Juga:

Kirab Obor Asian Games Dimulai di Yogyakarta

Perpaduan Api Asian Games Dihiasi Tarian Budaya Asia

Menanggapi hal ini, Sekretaris NPCI Jawa Barat Elon Carlan mengatakan permasalahan ini sebetulnya telah berulang kali dimusyawarahkan. Justru ia menuding para atlet itu tidak menjalankan mekanisme organisasi yang telah disepakati.

Selain itu, menurutnya gugatan tersebut salah sasaran. Penyelesaian mengenai tidak diikutsertakan dalam seleksi Asian Paragames seharusnya dengan NPCI kabupaten/kota masing-masing.

“Atlet kan berangkatnya dari NPCI kabupaten/kota. Jangan sampai mereka protes tapi tidak tahu mekanismenya. Melewati gerbong langsung ke Jabar, kan enggak bisa,” jelas Elon beberapa waktu lalu.

Saat disinggung mengenai uang kontribusi yang diminta, ia dengan tegas membantahnya. Menurut dia, tidak ada istilah kontribusi, hanya saja terdapat komitmen serta kesepakatan bersama antara atlet dan organisasi.

“Kontribusi itu sendiri sesuatu yang bisa dibilang ada tidak ada, kembali ke komitmen atlet dan organisasinya yang mereka ikrarkan sendiri. Kalau kontribusi tanya atletnya sendiri, yang berkomitmen, yang berjanji kan mereka sendiri,” tukas Elon.

BAGIKAN