UNHCR dan IOM Desak Trump Berikan Suaka Bagi Korban Perang

@Rayapos | Jenewa:  Lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa urusan pengungsi (UNHCR) dan Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), Sabtu (28/1/2017), mendesak pemerintahan Trump terus menawarkan suaka kepada penduduk yang lari dari perang dan penganiayaan dengan menyatakan bahwa program penempatan sangat penting.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat menyatakan membutuhkan empat bulan untuk mengizinkan pengungsi memasuki negaranya dan untuk sementara melarang pengungsi dari Suriah dan enam negara lain berpenduduk sebagian besar muslim dengan menyatakan bahwa kebijakan tersebut dapat membantu melindungi warga AS dari serangan teroris.

“Kebutuhan pengungsi dan pendatang di seluruh dunia tidak pernah lebih besar dan program penempatan AS sangat penting bagi dunia,” kata dua lembaga bermarksas di Jenewa, Swiss, tersebut dalam pernyataan bersamanya.

Trump menghentikan pengungsi dari Suriah dan enam negara lain, yakni Irak, Iran, Sudan, Libya, Somalia, dan Yaman masuk selama 90 hari dengan menyatakan bahwa pemerintahannya membutuhkan waktu untuk mengembangkan pemeriksaan lebih ketat kepada pengungsi, pendatang dan wisatawan.

IOM dan UNHCR menyatakan bahwa mereka masih berkomitmen untuk bekerja sama dengan pemerintahan AS atas cita-cita bersama untuk memastikan keselamatan dan keamanan relokasi serta program-program imigrasi.

Sejumlah tempat relokasi disediakan oleh setiap negara yang rentan menjadi tujuan pengungsi, beberapa di antaranya mengharuskan adanya perawatan kesehatan khusus yang tidak tersedia di negara pertama pencari suaka.

Menurut lembaga tersebut ketersediaan pelayanan perawatan kesehatan itu sangat vital.

Lebih dari 30 negara turut ambil bagian dalam program yang sedang diverivikasi oleh UNHCR.

Kedua lembaga tersebut berharap bahwa AS akan meneruskan peran kepemimpinannya yang kuat dan melestarikan tradisi lama dalam melindungi orang-orang yang melarikan diri dari negaranya yang dilanda konflik dan penderitaan.

Sekitar 25 ribu pengungsi direlokasi di AS selama periode Oktober-Desember 2017 melalui program UNGCR bagi sebagian besar negara rentan pengungsian, demikian pernyataan kedua lembaga tersebut, Jumat waktu setempat.

Sejumlah lembaga pemerintahan federal AS dilibatkan dan pemeriksaan latar belakang secara luas telah dilakukan, demikian kata juru bicara UNHCR, Vannina Maestracci, dalam konferensi pers.

“Saya pikir hal itu adil untuk mengatakan bahwa pengungsi yang masuk ke AS akan dimukimkan adalah beberapa orang, yang memasuki AS diperiksa secara ketat,” kata perempuan itu.

Dalam cuitannya pada Selasa, Trump berkata, “Hari besar direncanakan untuk KEAMANAN NASIONAL besok. Di antara banyak hal itu, kita akan membangun tembok!” Pengaturan keamanan perbatasan akan meliputi pembuatan tembok perbatasan dengan Meksiko dan langkah lain untuk mengurangi jumlah pendatang gelap tinggal di AS.

Comments

comments

LEAVE A REPLY