Unsur Pimpinan MUI Bertemu Presiden Israel: Tergantung Sudut Pandang

Majelis Ulama Indonesia (MUI) kembali membuat heboh. Kali bukan masalah fatwa, tetapi pertemuan beberapa unsur pimpinan MUI dengan Presiden Israel Reuven Rivlin

Adalah Ketua Komisi Perempuan Remaja dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI) Istibsyaroh, yang kabarnya menggelar pertemuan tersebut.

Padahal seperti diketahui, Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel dan Majelis Ulama Indonesia merupakan salah satu lembaga yang paling keras menentang, berbagai bentuk kerja sama dengan negara Yahudi tersebut.

Majelis Ulama Indonesia bukan hanya menentang. Mereka pun paling gampang melemparkan kutukan kepada Israel, jika sesuatu yang dilakukan dianggap merugikan atau tidak seirama dengan pandangan MUI.

Menanggapi hal itu, MUI sementara berharap bahwa berita itu hanyalah rumor belaka alias hoax.

Namun kelihatannya Majelis Ulama Indonesia sulit untuk berkelit karena pertemuan itu juga tertuang dalam sebuah foto, dimana unsur pimpinan MUI terlihat “santai” melakukan foto bersama dengan Presiden Israel.

“Teman-teman di MUI menyesalkan kalau itu benar. Tapi sekarang sedang musim hoax, mudah-mudahan saya berharap itu hoax, karena kapasitas Ibu Istibsyaroh adalah Ketua MUI.”

Demikian pembelaan diri dari Ketua Komisi Hukum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat HM Baharun.

Setelah dibelit kasus demi kasus belakangan ini, serta menjadi sorotan banyak pihak terkait eskalasi politik tanah air belakangan ini, pertemuan unsur pimpinan MUI dengan Presiden Israel di Yerusalem tersebut, sejatinya akan menambah nestapa Majelis Ulama Indonesia.

Tidak ada yang bisa dilakukan kecuali menerima kenyataan. Sibuk mencari dalih dan membela diri, hanya akan menambah derita saja. Lebih baik memikirkan apa yang harus dijelaskan terkait pertemuan itu, sebelum membangkitkan gejolak baru di tanah air.

“Kalau memang benar, sebetulnya ini tidak dapat dibenarkan. Sebagai salah satu pengurus MUI dia tidak dibenarkan bertemu pejabat-pejabat negara yang menzalimi rakyat Palestina itu.”

Demikian pernyataan Baharun.

Sikap Israel yang dianggap selalu menzolimi Palestina, merupakan hal terbesar yang sering membangkitkan murka MUI terhadap bangsa Yahudi tersebut.

Entah apa urusan Istibsyaroh, jauh-jauh ke Israel hanya untuk memberikan pukulan telak bagi MUI. Diundang secara pribadi, ataukan merupakan kunjungan dengan restu pimpinan MUI. Itulah mungkin yang harus buru-buru dijelaskan oleh petinggi-petinggi MUI di dalam negeri.

Mudah-mudahan semua yang berkepentingan tidak buru-buru zuhudhon, tetapi mencoba untuk melihat dari berbagai sudut pandang.

Tidak salah jika Baharun menegaskan bahwa kunjungan itu bukan resmi atas nama lembaga Majelis Ulama Indonesia. Tapi, para elite organisasi trans nasional itupun harus  mencari kata-kata yang “pas” untuk menjelaskan hal tersebut.

Menurut beberapa sumber, kunjungan Istibsyaroh dilakukan hari Rabu (181), dibumbui dengan keterlibatan Australia. Lewat Australia Jewish Affairs Council (AIJAC), pertemuan itu difasilitasi.

Dikabarkan, Presiden Israel Reuven Rivlin, menyambut ramah tamunya dari Indonesia tersebut. Ia pun menjelaskan panjang lebar tentang sikap Israel yang sebetulnya tidak memusuhi muslim.

Dari sisi Rivlin, pernyataan tersebut mungkin ada benarnya. Salah satu fakta yang selama ini sangat terang benderang untuk dilihat dunia adalah, peristiwa Idul Fitri dan Natal di kota kelahiran Isa Almasih, Bethlehem.

Palestina menguasai wilayah itu. Namun ketika Idul Fitri dan Natal tiba, masing-masing umat saling menjaga, bekerja sama, bahkan saling mengunjungi untuk mengucapkan selamat.

Unik, tetapi tidak semua bisa menerima fakta unik tersebut. Sumbu pendek menjadi permasalahan. Masalah agama pun paling sukses untuk digoreng menjadi akar pertumpahan darah.

Politik menjadi nasi campur dengan agama menjadi salah satu lauk pauknya, selain ambisi dan kerakusan akan kekuasaan. Ironis tapi fakta.

Jadi, kunjungan Istibsyaroh ke Israel bisa menjadi dua sisi mata uang, tergantung dari sisi mana kita menyikapinya.

Kita bisa melihat kunjungan itu dari sudut pandang aib, haram dan terlarang yang bermuara pada angkara murka.

Atau, kita menengok dari sudut pandang lain tentang bagaimana mewujudkan dunia yang lebih baik, aman, tenteram dimana manusia bisa hidup berdampingan satu dengan yang lain.

Tentu saja jauh dari begitu mudahnya menyemburkan kata kafir….

Salam perdamaian !!

BAGIKAN

LEAVE A REPLY