Kolase: Rayapos/DWO

@Rayapos | Viagra alami ternyata sangat mahal. Per kilogram USD 100.000 (setara Rp 1,4 miliar). Lebih mahal dibanding emas. Namanya Yarsagumba (Yarchagumba). Jamur yang hanya tumbuh di Puncak Everest, Gunung Himalaya.

Tempatnya terpencil, sulit dijangkau, waktu tumbuhnya singkat, jumlahnya sedikit. Panen hanya dalam empat pekan per tahun. Di awal musim panas. Antara Mei – Juni. Sesudah itu mati.

Yarsagumba dalam bahasa Tibet berarti ‘rumput musim panas, ulat musim dingin’. Tanaman ini terbentuk dari larva (ulat) tanah yang hanya hidup di sana. Ulat itu harus mati dulu. Dan, matinya harus karena terinfeksi Ophiocordyceps Sinensis (jamur parasit). Bukan mati karena yang lain.

Setelah ulat mati, di kepalanya tumbuh jamur. Satu ulat, satu jamur. Itu pun kalau jamurnya tumbuh. Karena ada juga ulat mati, akibat parasit, tapi jamurnya tidak tumbuh.

Inilah ulat Himalaya itu:

Nah… jamur warna coklat batangnya sebesar batang korek api itulah Yarsagumba. Dipetik. Dikeringkan. Dimakan. Efeknya, jauh lebih dahsyat daripada Viagra. Untuk pria dan wanita.

Pantas, jumlahnya sedikit. Lokasinya di ketinggian 3.000 – 5.000 meter dpl di lereng Everest, Pegunungan Himalaya. Tumbuhnya pun hanya di awal musim panas.

Maka, saat musim panas tiba, desa-desa di lereng pegunungan Himalaya mendadak kosong. Sepi penduduk. Warga mendaki Himalaya, mencari Yarsagumba.

Wartawan BBC dari London mendatangi warga lereng Himalaya, khusus wawancara penduduk tentang hal ini. Dia menemui Sita Gurung (43) wanita pemburu Yarsagumba.

Sita menceritakan, di awal musim panas dia bersama warga desanya, naik ke lereng Eeverest. Meskipun disebut musim panas, tapi di sana diselimuti salju. Dingn. Dan, salju sedang labil akibat perubahan suhu di pergantian musim. Sehingga rawan longsor.

“Kami kedinginan. Selain itu, longsor salju bisa datang mendadak,” ujarnya. “Jika longsornya besar, kami bisa terhempas ke jurang.”

Warga dataran tinggi Himalaya pemburu Yarsagumba. Foto: BBC
Warga dataran tinggi Himalaya pemburu Yarsagumba. Foto: BBC

Menurut Sita, satu buah Yarsagumba USD 3,50 – 4,50 (setara Rp50.000-65.000). Pembelinya tengkulak. Tengkulak menjualnya ke kota. Dari kota menyebar ke berbagai negara. Harga pasaran dunia USD 100 (Rp 1,4 juta) per gram.

“Dulu, saya bisa menemukan 100 Yarsagumba sehari. Sekarang paling banyak 20 buah. Bahkan, ada kalanya kami tidak menemukan sama sekali,” keluh Sita.

Sita tidak tahu, mengapa terjadi penurunan. Warga di sana mengaitkan dengan perubahan iklim dan kenaikan suhu udara. Beredar anggapan, bahwa itu akibat global warming.

Satu batang beratnya hampir satu gram. Jika Sita dapat rata-rata 10 buah, maka dikalkulasi pendapatannya sekitar Rp 1 juta per hari per orang. Suatu penghasilan besar bagi warga desa.

“Karena Yarsagumba, saya bisa beli baju. Bisa pergi ke Kathmandu, dan saya bisa mandiri,” kata Sita.

Baca Juga:

Pembeli Yarsagumba dari petani, Karma Lama, menjualnya ke Kathmandu. Dari Kathmandu menyebar ke kota-kota lain. Ke negara lain.

“Dijual ke China, Korea, Thailand, Jepang, Inggris, Amerika. Harganya sudah USD 100.000 per kilogram,” kata Karma Lama kepada BBC.

Sejarah Penemuan Yarsagumba

Tidak ada yang tahu pasti, siapa penemu Yarsagumba. Yang jelas, warga Himalaya sudah berburu itu sejak ratusan tahun silam. Turun-temurun. Dijadikan obat aneka penyakit.

Soal sejarah, muncul berbagai versi. Paling populer di sana versi Genghis Khan (1162 – 1227). Dikisahkan, ketika Genghis Khan jadi kaisar Mongolia, suka perang. Tujuan perang menaklukkan wilayah.

Tercatat sejarah, bahwa kekaisaran Genghis Khan terbesar di dunia. Dia menaklukkan sebagian besar wilayah Asia dan Eropa.

Tapi pasukan Genghis Khan sulit menaklukkan wilayah seputaran lereng Himalaya. Berapa kali pasukan Mongol melakukan invasi ke sana, selalu kalah. Jumlah pasukan seimbang, Mongol pasti kalah. Dilipatkan dua kali lebih banyak, tetap saja kalah.

Banyak pasukan Mongol tewas. Meskipun warga yang diinvasi juga banyak yang terbunuh.

Ini membuat Genghis Khan heran. Maka dia kirim pasukan tilik sandi (intelijen) ke sana. Mencari tahu. Mempelajari kehidupan musuh. Berhari-hari, berbulan-bulan.

Alhasil, kekalahan pasukan Mongol bukan soal strategi perang. Tapi, soal kesehatan individu. Orang-orang di kawasan Himalaya dinilai kuat-kuat, jarang sakit, sudah tua pun masih sangat gesit.

Hal lain yang diamati pasukan tilik sandi, sapi-sapi di sana kuat-kuat. Sapi-sapi tua pun masih sangat gesit. Dari situ mereka menyimpulkan, ini pasti soal makanan.

Betul. Warga di sana suka mengkonsumsi jamur. Jamur khusus yang hidup di dataran tinggi Himalaya. Itulah Yarsagumba.

Yarsagumba. Foto: BBC
Yarsagumba. Foto: BBC

Sejak itu pasukan Genghis Khan menguasai wilayah tersebut. Hanya untuk mengambil Yarsagumba. Hasil ekplorasi dikirim ke kerajaan. Hanya kerabat kerajaan yang mengkonsumsi. Terbukti, jamur tersebut menyehatkan.

Baru, kemudian diketahui jamur itu juga berfungsi untuk kesehatan seksual. Sejenis Viagra. Dan, selama ratusan tahun hanya dikonsumsi oleh keluarga kerajaan Mongol.

Setelah Kerajaan Mongol habis, warga Himalaya bebas memunguti Yarsagumba. Mereka gunakan seperti sebelumnya. Kemudian menyebar ke mana-mana. (*)

BAGIKAN