Rimson Sitorus, korban kepalanya terputus. Foto agak buram, menghindari keengganan pembaca melihatnya. Foto: Dok Istimewa

@Rayapos | Medan – Tidak ada duel. Rimson Sitorus (47) didatangi LN (45) yang membawa pedang sepanjang 80 Cm. Pedang langsung ditebaskan LN, kena leher Rimson. Hingga putus total.

Peristiwa dramatis itu terjadi di Desa Lae Ambat, Kecamatan Silima Pungga Pungga, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, Rabu (24/10/2018) sekitar pukul 18.00.

Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Tatan Dirsan Atmaja mengatakan, motif sementara pelaku tega menghabisi nyawa korbannya dilatarbelakangi dendam.

Pelaku membunuh korbannya sangat sadis. Hingga kepala korban putus, terlepas dari badan.

“Korban dan pelaku bertetangga. Selain membunuh korban, pelaku juga menikam Kapolsek Parongil, AKP Sayuti Malik,” kata Tatan kepada wartawan, Kamis (25/10/2018).

Tersangka LN kini ditahan di Mapolsek Parongil, Dairi.

Berita Terkait: Usai Penggal Kepala Korban, Pelaku Tikam Kapolsek

Diawali Gonggongan Anjing

Peristiwa ‘penggal kepala’ itu jadi gunjingan heboh bagi warga Desa Lae Ambat, sepanjang dua hari ini.

Seorang saksi mata yang keberatan disebut namanya, menceritakan kepada wartawan, demikian:

Rabu (24/10/2018) sekitar pukul 13.00 LN berjalan melintas di depan warung milik Rimson, berupa kedai tuak. Saat itu kedai sepi, tidak ada pelanggan.

Di saat LN melintas di depan warung, anjing milik Rimson menggonggong ke LN. Gonggongan terus-menerus. Rimson sudah menenangkan anjingnya, tapi anjing terus menggonggong.

Tapi, gonggongan mendadak berhenti setelah LN membentak, sambil menghentakkan kaki ke tanah.

Lantas, Rimson berkata dalam bahasa setempat: “Unang… tulangmu doi,” ujar Rimson. Artinya, Rimson berkata ke anjingnya: “Itu pamanmu sendiri”.

Maka, LN tersinggung. Marah. Percek-cokan terjadi. Tetangga berdatangan. Lantas para tetangga mendamaikan mereka. Rimson dan LN sudah bersalaman, tanda damai.

LN pulang. Rumahnya tidak jauh dari rumah Rimson. Semua tetangga yang melerai pun kembali ke rumah masing-masing.

Buk… Bagai Kelapa Jatuh dari Pohonnya

Ketika hari gelap, sekitar pukul 18.00 LN keluar rumah. Mendatangi rumah Rimson.

“Waktu itu tidak ada orang di situ, sepi. Kecuali keluarga Rimson,” kata saksi yang enggan disebut namanya.

Terjadi cek-cok mulut. Berlanjut ke perkelahian. Tapi, tidak seimbang. Sebab, LN membawa pedang sepanjang sekitar 80 Cm.

Pertengkaran dalam waktu sangat singkat. Mendadak, terdengar jerit kesakitan. Jeritan singkat. Hanya satu-dua detik.

Lalu terdengar suara, seperti kelapa jatuh dari pohonnya: Buk…

Ternyata yang jatuh adalah kepala Rimson. Putus, terlepas. Dari tubuhnya yang ambruk.

Saat itu tedengar jeritan wanita. Spontan para tetangga keluar. Mendekati LN, berdiri membawa pedang. Orang-orang berkerumun pada jarak sekitar 10 meter dari LN.

Sejenak kemudian tampak LN memungut sesuatu di tanah. Tak jauh dari tempatnya berdiri.

Di keremangan senja, tetangga tidak melihat jelas, benda yang dipungut LN. Tampak sesuatu yang bulat seperti kelapa.

LN menenteng benda itu di tangan kiri. Sedang tangan kanan memegang pedang. Berjalan menjauhi warga. Berjalan tenang.

Orang-orang terpukau. Atau mungkin takut mendatangi LN. Situasi gelap.

Beberapa belas meter LN berjalan, mendekati motor yang terparkir pinggir jalan. Itu motor untuk kulakan pedagang. Ada keranjang di sisi kiri dan kanan. Warga menyebutnya keranjang along-along.

LN memasukkan barang bawaannya ke keranjang di motor tersebut. Blusss… Lalu berjalan menuju rumahnya.

Orang-orang baru terperanjat, setelah melihat tubuh Rimson tanpa kepala. Tergeletak di tanah. Diam tak bergerak.

Para wanita menjerit histeris. Para lelaki berlari mendekati motor berkeranjang. Salah satunya merogoh keranjang. Mengambil sesuatu. Mengangkatnya. Dan…

Kepala Rimson berlumuran darah segar.

“Pak Maruli memegang kepala itu kaget, terlepas lagi. Kepala jatuh menggelinding,” tutur saksi.

Seketika itu juga warga berlari ke Mapolsek Parongil. Melaporkan kejadian.

Polisi terkejut mendengar laporan. Beberapa personil segera bergerak menuju TKP (Tempat Kejadian Perkara). Bahkan, Kapolsek Parongil, AKP Sayuti Malik, ikut menuju TKP.

Baca Juga:

Nusron Wahid Diusir, Begini Versi Polisi dan Humas Masjid

Bukan Hanya Siswa, Gurunya pun Ikut Aksi Bela Tauhid

Masuk Islam, Ini Berbagai Kontroversi yang Pernah Dilakukan Sinead O’Connor

Serangan Mendadak

Tiba di TKP, polisi segera mengevakuasi tubuh Rimson tanpa kepala. Mengambil kepalanya. Lantas disatukan dalam kantong jenazah.

Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Tatan Dirsan Atmaja menggambarkan, itu pembunuhan yang sangat sadis.

“Petugas mengevakuasi jenazah yang tergeletak. Posisi tubuh dan kepalanya terpisah. Jaraknya kurang lebih 40 meter,” ungkap Tatan.

Kemudian tim polisi dipimpin Kapolsek menuju rumah tersangka LN. Tiba di sana, LN sedang di depan rumahnya.

LN berdiri menenteng pedang. Memandangi para polisi yang datang. Dia kelihatan tenang.

Polisi tidak gentar. Bergerak maju, mendekati LN. Kapolsek memerintahkan, LN membuang senjata. Tapi, LN tetap memegang pedangnya. Seolah menantang.

Kapolsek membentak: *Buang senjata…” dibarengi tembakan ke udara. Letusan pistol menyalak di malam gelap itu.

Bersamaan letusan pistol, LN membuang pedang ke tanah. Kelihatan dia akan menyerah.

Polisi bersiap mengeluarkan borgol. Hendak mendekati LN. Kapolsek Sayuti mundur, karena urusan anak buahnya memborgol.

Tapi, di luar dugaan, LN berlari ke arah Kapolsek Sayuti. Mendekati Sayuti.

Ketika dekat, Sayuti berbalik. Secepat kilat, LN menikam tubuh Sayuti.

Reflek, Sayuti menangkis serangan. Tak ayal, beberapa bagian tubuhnya terluka gores senjata tajam. Ternyata LN menyerang dengan belati.

Pada saat rawan seperti itu, personil polisi memberi tembakan. Menyasar ke tubuh tersangka. Satu tembakan mengenai kaki kanan LN, satu tembakan masuk ke perutnya. LN tumbang.

Secepatnya kondisi LN diperiksa. Ternyata tembakan mengenai lambungnya. Dia segera diborgol. Diangkut ke Puskesmas Parongil.

Sedangkan, Kapolsek Sayuti juga dilarikan ke RS di Medan.

Berdasarkan informasi dari tetangga korban, antara LN dengan Rimson Sitorus (korban) sudah lama bermusuhan.

“Beberapa tahun lalu mereka berkelahi soal batas tanah milik mereka,” ujar saksi yang keberatan disebut namanya. “Orang sini tahu, mereka pernah berkelahi.” (*)

Simak video Kapolsek Parongil, AKP Sayuti Malik, di sini:

BAGIKAN