Wajah dan tantangan baru DNIKS Membangun

“Pelayanan sosial di Indonesia sejak empat tahun lalu, dianjurkan DNIKS agar lebih mengarah pada pendekatan masyarakat, makin marak melakukan kegiatan jemput bola di masyarakat luas, utamanya melalui pendekatan keluarga, termasuk membentuk Posdaya.”

Sejak hari Minggu (17/9) lalu, di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, berlangsung Munas DNIKS 2017, disambung dengan Konperensi Nasional Kesejahteraan Sosial (KNKS) sampai hari Rabu (20/9) kemarin. Munas tersebut menghasilkan Pengurus Pusat DNIKS 2017-2021 dipimpin oleh Ketua Umum Tantyo Sudharmono, wajah baru yang bergabung dalam DNIKS dalam dua tahun ini. Ketua Umum dibantu oleh Ibu Dr. Dewi Motik Pramono, seorang relawan sosial yang matang dalam kegiatan bersama masyarakat. Prof. Haryono Suyono yang telah menjabat Ketua Umum DNIKS selama tiga periode dipercaya sebagai Dewan Pembina DNIKS bersama Ibu Sudarsono yang sangat terkenal sebagai penggerak kegiatan sosial di Batam dan Drs. Sularso semior DNIKS sekaligus mantan Dirjen Koperasi pada jaman Presiden HM Soeharto.

Tantyo dan Dewi Motik dipercaya oleh Munas untuk membentuk Pengurus lengkap yang ditugasi melanjutkan kepemimpinan pengurus lama dengan pesan-pesan program yang dirumuskan selama masa sidang yang berjalan lancar dan penuh kekeluargaan. Munas dan KNKS yang dihadiri oleh sekitar 600 utusan yang terdiri dari para anggota LK3S atau BK3S dari seluruh Indonesia, organisasi Sosial kemasyarakatan anggota DNIKS dan masyarakat umum yang terdiri dari aktivis sosial,  serta mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi itu berjalan lancar. Kegiatan itu didukung dan dihadiri oleh Menteri Sosial RI, para Dirjen dan Direktur dalam lingkungan Kementerian Sosial, Kementerian Kesehatan dan jajaran lainnya serta wakil-wakil dari Pemerintah Daerah dari seluruh Indonesia. Kegiatan itu juga mendapat dukungan penuh dari Gubernur Kalimantan Selatan dan Walikota Banjarmasin yang keduanya sekaligus menjadi tuan rumah Munas, pembukaan KNKS dan penutupan KNKS yang dihadiri oleh peserta yang sangat melimpah tersebut.

Kedua kegiatan itu mendapat perhatian yang sangat tinggi karena pelayanan sosial di Indonesia sejak empat tahun lalu, setelah dianjurkan dengan gigih oleh DNIKS agar lebih mengarah pada pendekatan masyarakat, makin marak melakukan kegiatan jemput bola kepada masyarakat luas, utamanya melalui pendekatan keluarga, termasuk membentuk Pos Pemberdayaan Keluarga atau Posdaya di desa-desa. Pendekatan Posdaya yang sangat berhasil telah berkembang di Sumatra Barat yang dirintis oleh LK3S Sumbar yang dipimpin oleh Ibu Nefi selaku Ketua Umumnya. Di Kalimantan Selantan, utamanya di Kota Banjarmasin sudah pula berkembang Posdaya yang kegiatannya terpadu dengan berbagai kegiatan sosial termasuk kegiatan melayani lansia dan anak balita melalui PAUD. Kegiatan di Kalimantan Selatan yang berhasil menggelar Munas dan KNKS ini dipimpin oleh Ibu Dewi Damayanti Said dengan sekretarisnya Bapak Yulherni,  juga berhasil membangun Posdaya sejak tahun 2008 yang lalu.

Pengembangan Posdaya di Banjarmasin menjadi salah satu awal dari gerakan untuk mengembangkan Posdaya di Kabupaten atau Kota lainnya di seluruh Kalimantan Selatan. Salah satu yang menarik dari Kalimantan Selatan adalah telah adanya berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan di seluruh Kalimantan Selatan yang menjemput bola ke desa desa karena kesadaran masyarakatnya yang sangat tinggi. Kalimantan Selatan yang terkenal dengan kegiatan keagamaannya yang tinggi telah menumbuhkan budaya saling gotong royong dan berbagi sesama anggota masyarakatnya. Ada kegiatan perorangan dalam bentuk Yayasan untuk mengurus lansia dan sekaligus menyantuni lansia di Panti.  Selain pula,  melakukan kegiatan menyantuni lansia kurang mampu di rumah biasa, melakukan kegiatan ke desa dengan menampung dan menyantuni tidak kurang dari 160 anggota lansia lainnya. Bentuk santunan itu berupa hantaran makanan dan sembako untuk warga yang disantuni dan kegiatan sosial ekonomi lansia lainnya.

Kegiatan kemasyarakatan itu tidak mengandalkan anggaran dari pemerintah tetapi para relawan memiliki kegiatan lain secara mandiri. Keuntungan dari kegiatan relawan dihibahkan untuk kegiatan sosial, yang kalau perusahaan besar namanya CSR, yaitu berupa hibah yang dilakukan dengan ikhlas dan penuh keakraban. Usaha yang dilakukan berupa rumah makan, ada industri kain, industri alat sederhana yang dikerjakan oleh lansia dan dijual dengan harga sederhana yang sebagian diberikan kembali kepada lansia yang membuatnya dan sebagian dibelikan bahan-bahan makanan pokok yang dikembalikan kepada para lansia atau penyandang disabilitas yang disantuni oleh gerakan sosial yang sangat mengagumkan tersebut.

Para relawan sosial merasa sangat menikmati dan bersyukur bisa melakukan usaha sosial itu yang sebagian kegiatannya dibantu oleh mereka yang diberikan santunan sendiri. Usaha kreatif berupa pemberian santunan tidak harus merugi dan tidak harus mengandalkan belas kasian orang lain. Melalui pengalaman yang menarik dari dua Provinsi ini, Sumatra Barat dan Kalimantan Selatan, Menteri Sosial makin erat berhubungan dengan DNIKS dan menaruh harapan yang besar kepada para pengurus LK3S di seluruh provinsi menjadi mitra terpercaya dari Kementerian Sosial dalam rangka pendekatan masyarakat untuk menangani masalah-masalah sosial dengan menjemput bola ke pedesaan. Menteri dan Dirjen Sosial mengumpamakan bahwa aliran dana bantuan dan rehabilitasi sosial yang mengalir ke desa dewasa ini makin melimpah, tetapi pemerintah daerah dan lembaga sosial hampir tidak siap dan hanya menyediakan “mangkok” kecil sehingga dana itu melimpah tidak ada manfaatnya.

Menteri dan Dirjen mengharapkan agar lembaga dan relawan sosial siap melakukan updating peta keluarga yang ada di desa agar penyaluran dana bantuan untuk pemberdayaan dan santunan sosial dapat disalurkan kepada sasaran yang tepat sehingga bisa merangsang pemberdayaan secara efisien agar tingkat kemiskinan yang dijadikan target dalam lima belas tahun mendatang dapat ditangani dengan baik dan tuntas. Dana dari pemerintah melalui kementerian sosial maupun melalui dana desa juga melimpah ditambah dana dari keluarga mampu yang disalurkan melalui zakat juga dapat dimanfaatkan untuk keperluan terpadu. Keterpaduan itu perlu digalang oleh lembaga dan relawan sosial yang bersatu untuk kesadaran yang tepat dan pemberdayaan secara terpadu mengikuti suatu roadmap yang mudah diikuti oleh para peserta yang taat untuk secara sabar bergerak dalam aliran yang tepat agar sampai pada tujuan menjadi keluarga yang bahagia dan sejahtera.

Pengurus baru yang nanti terbentuk sudah diundang untuk makin akrab dengan jajaran pemerintah pusat melalui Kementerian Sosial dan jajaran pemerintah daerah bermitra dengan pemerintah kabupaten/kota dalam menata peta yang akurat untuk menjadi pedoman penggarapan terpadu agar setiap relawan atau petugas sosial kemasyarakatan dapat bersatu menggalang keterpaduan mengabdi dalam proses pemberdayaan yang serentak dan masif karena masalah yang dihadapi masih sangat luas dan komprehensif. Semoga berhasil dan selamat bekerja.

(Prof. Dr. Haryono Suyono, mantan Menko Kesra dan Taskin RI).

Comments

comments