Wakil Sekjen Majelis Ulama Indonesia, Tengku Zulkarnain.

@Rayapos | Jakarta – Perang keyakinan terus terjadi. Satu pihak yakin, Reuni 212 di Monas, Jakarta, pada Minggu (2/12/2018) nanti, pemanfaatan agama bertujuan politik. Pihak lain yakin, itu soal umat.

Instagram Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ustaz Tengku Zulkarnain @tengkuzulkarnain.id, Minggu (25/11/2018) malam mengunggah tulisan begini:

“Kenapa sekali setahun saja umat Islam, Warga Negara NKRI, mau memakai Jalan Thamrin ada yang kemudian berteriak keberatan seperti orang yang kebakaran bulu kumis….?”

Postingan Tengku muncul, karena menurutnya, ada penolakan di kalangan masyarakat soal Tabligh Akbar, Reuni 212 di Monas itu. Antara lain, munculnya sejumlah spanduk penolakan.

Tengku bersikukuh, bahwa ini masalah umat. Bukan pemecah-belah bangsa.

Tengku menulis demikian:

“Spanduk Panik Mulai Ditebar. Spanduk spanduk yg menunjukkan adanya pihak pihak yang panik mulai ditebar di ibu kota. Spanduk itu dimaksudkan agar Tabligh Akbar Reuni 212 GAGAL,” tulisnya.

Dalam postingan terdapat tiga spanduk penolakan Tablig Akbar Reuni 212 yang disorotinya.

Spanduk tersebut antara lain bertuliskan ‘Save Indonesia Damai’. Spanduk tersebut menurutnya, seolah olah acara Tablig Akbar 212 adalah acara kerusuhan dan penebar kebencian.

Padahal, lanjutnya, ketika Tablig Akbar 212 digelar, kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok berlangsung khidmat, tidak ada kerusuhan apa pun yang terjadi.

“Bahkan Kapolri yang jauh jauh hari bilang acara akan menimbulkan kerusuhan kecele, karena tidak terbukti sama sekali. Mana mungkin saat sudah sejuk sekarang ini malah terjadi ketidakdamaian, apalagi kerusuhan? Apakah rasa malu kini sudah hilang karena PANIK…?,” tulis Ustaz Tengku Zulkarnain.

Spanduk bertuliskan ‘Save Bhinneka Tunggal Ika’ juga turut ia pertanyakan. Sangkaan jika Tablig Akbar 212 itu anti Bhinneka Tunggal Ika dibantahnya juga.

“Menggiring opini bahwa Acara Tabligh Akbar Reuni 212 adalah anti Bhinneka Tunggal Ika adalah bentuk fitnah sekaligus kepanikan yang akut,” tulisnya.

Spanduk selanjutnya adalah Tablig Akbar Reuni 212 yang disangkakan bakal memicu kemacetan lalu lintas.

Padahal, ia menegaskan, pelaksanaan Tablig Akbar Reuni 212 dilangsungkan pada Hari Minggu, sejalan dengan pemberlakuan kebijakan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau Car Free Day.

“Ada spanduk Bertulisan :”Save Ibukota dari Macet Total”. Padahal 2 Desember 2018 adalah hari Ahad. Tidak ada kantor pemerintah yg buka di hari Ahad. Jadi apa sebabnya sehingga mereka khawatir terjadi kemacetan?” tanyanya.

“Padahal selama ini Jalan Thamrin Jakarta ditutup untuk umum pada setiap hari Ahad saat Car Free Day saja, kami, para pembayar pajak tidak protes dan tidak keberatan.”

“Kenapa sekali setahun saja umat Islam, Warga Negara NKRI, mau memakai Jalan Thamrin ada yang kemudian berteriak keberatan seperti orang yang kebakaran bulu kumis….?” sambungnya.

Baca Juga:

Cari Pelatih Baru, Timnas Republik Irlandia Bidik Zidane

Polres Jakbar Gagalkan Peredaran Sabu dan Ekstasi

Sedangkan spanduk bertuliskan ‘Acara Tablig Akbar 212 adalah Politisasi Agama’ menurutnya adalah pernyataan sangat lucu dan menggelikan.

Pernyataan tersebut disebutnya sebagai bentuk kepanikan kelompok penentang Tablig Akbar Reuni 212.

“Janganlah menunjukkan kepanikan yang luar biasa walau kemungkinan kalah sudah di depan mata. Menuduh Tabligh Akbar 212 adalah Politisasi agama sungguh pernyataan panik yang sangat menggelikan,” paparnya.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan telah menyetujui alumni Persaudaraan Alumni (PA) 212 menggelar reuni akbar di Monumen Nasional (Monas) Gambir Jakarta Pusat.

“Secara prinsip kita menyetujui, tidak ada larangan,” ujar Anies Baswedan di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (19/11/2018) lalu.

Namun, Anies Baswedan menjelaskan bahwa yang dapat mengeluarkan izin terkait keramaian adalah pihak kepolisian.

“Tempatnya memang bisa digunakan, tapi untuk kegiatan keramaian bukan kita. Itu izin dari kepolisian ya,” jelas Anies Baswedan. (*)