@Rayapos | Jakarta – Jorge Lorenzo mengaku turut prihatin dengan keterpurukan Movistar Yamaha MotoGP dalam dua musim terakhir. Sepanjang 24 balapan terakhir, bekas tim yang dibelanya itu belum pernah meraih kemenangan.

Paceklik kemenangan yang dialami oleh pabrikan garpu tala ini merupakan rekor terpanjang selama mereka berkiprah di arena Grand Prix. Terakhir Valentino Rossi finish pertama pada seri Assen, Belanda 2017 lalu.

Secara khusus, Lorenzo memberikan pembelaan kepada Vinales. Menurut dia, kritikan tajam yang dilontarkan banyak pihak kepada Vinales tidaklah adil, terutama soal mentalitasnya.

X Fuera sendiri mengaku pernah mengalami masa-masa yang sama. Karena itu, ia memperingatkan orang-orang bahwa Vinales masih tetap rider yang pernah langsung membuat Yamaha melaju di depan usai hijrah dari Suzuki.

“Setiap orang punya jalan sendiri untuk mencapai level tertinggi. Beberapa, seperti saya atau Casey Stoner, kami harus marah saat situasinya tak sesuai,” ungkap Lorenzo, sebagaimana dilansir laman Motorsport, Senin (15/10/2018).

“Tapi beberapa rider lain lebih tenang, seperti Andrea Dovizioso. Vale, contohnya penuh politik. DNA macam ini ada di dalam setiap rider, dan mengubahnya demi meraih hasil baik saya rasa bukan cara yang tepat.”

Lorenzo pun mengingatkan bahwa Vinales pernah tampil gemilang saat membela Suzuki. Jadi, lanjut dia, pebalap Spanyol ini merupakan salah satu rider yang memiliki mental juara. Hanya saja memang masalah yang dialami motornya belum bisa diatasi.

“Anda tak bisa mengkritik Maverick atau menyebut mentalnya lemah. Maverick adalah orang yang tahun lalu meraih kemenangan dan menjalani pramusim yang sangat baik,” tuturnya.

Baca Juga:

Ketika Guardiola dan Ancelotti Bicara Sosok Dibalik Suksesnya

Lapisi Buffon, PSG Lirik David de Gea

Taufik Hidayat Sampaikan Dukungan untuk Lee Chong Wei

“Saat itu segala komentar tentangnya sangat positif. Semua orang kagum padanya dan semua bilang lebih mudah bekerja dengannya ketimbang saya. Tapi itu saat ia menang. Saat situasinya buruk, orang-orang seperti kutu busuk.”

Vinales juga mendapat kritik tajam atas keputusannya memutuskan kerja sama dengan sang crew chief, Ramon Forcada akhir musim nanti. Forcada diyakini tak punya cara kerja yang selaras dengan Vinales.

“Dari luar, saya tak bisa berkomentar. Tapi memang tak mudah bekerja dengan Ramon, karena ia punya karakter yang kuat. Saya juga punya karakter itu, itulah mengapa kami kerap bentrok,” jelasnya.

“Meski begitu, bersama-sama kami merebut tiga gelar. Ramon bersikap baik jika kami menang, tapi bisa buruk jika kami gagal. Tapi saya rasa Maverick punya alasan tersendiri, dan keduanya telah mengambil keputusan.”