CEO Facebook, Mark Zuckerberg minta maaf di depan Parlemen Uni Eropa (Foto: AP/Alex Brandon)

@Rayapos | Jakarta –  CEO Facebook, Mark Zuckerberg menyampaikan permohonan maaf di depan Parlemen Uni Eropa karena tak berhasil mencegah penyalahgunaan data pengguna FB oleh pihak-pihak tertentu.

Di hadapan para pemimpin Perlemen Uni Eropa di Brussels, Belgia, Selasa (22/5/2018),  Zuckerberg juga mengakui skandal kebocoran data tersebut adalah sebuah kesalahan, seraya menekankan bahwa warga Eropa adalah bagian yang sangat penting bagi Facebook.

“Kami tidak memahami seberapa besar tanggung jawab kami. Itu adalah sebuah kesalahan dan saya minta maaf untuk itu,” ujar Zuckerberg seperti dilansir dari Reuters, Rabu, (23/5/2018).

Seperti dilakukan sebelumnya saat bertemu dengan Kongres AS, Zuckerberg juga menanyakan soal sebaiknya ada tidaknya regulasi yang mengatur hal itu. Dan kalaupun harus ada, regulasi apa yang tepat untuk mengaturnya. 

“Beberapa regulasi sangat penting dan tidak terhindarkan,” ungkap Zuckerberg.

Namun, Zuckerberg menolak menjawab saat ditanya apakah ada penggunaan data bersama antara Facebook dan anak usahanya–seperti WhatsApp–atau apakah nantinya pengguna akan dimungkinkan untuk memblokir iklan yang sengaja menyasar mereka.

Pertemuan itu berlangsung selama 22 menit. Format pertemuannya juga berbeda dengan ketika Zuckerberg bertemu dengan Kongres AS. Sebab, pada pertemuan kemarin, Zuckerberg bisa memilih pertanyaan mana yang akan dijawabnya. Hal ini menuai kritikan dari para politisi Eropa.

Terkait format pertemuan itu, Facebook menegaskan hal tersebut bukanlah permintaan mereka. 

Soal ini, Presiden Parlemen Eropa Antonio Tajani mengungkapkan para pimpinan parlemen memahami waktu Zuckerberg cukup terbatas sehingga mereka memutuskan untuk mengintensifkan waktu yang ada.

Seperti diketahui, data 87 juta pengguna Facebook telah dicuri dan disalahgunakan oleh kantor konsultan politik Cambridge Analytica.

Kabarnya, Cambridge Analytica juga terlibat dalam kampanye Donald Trump dalam Pemilihan Presiden AS pada 2016 lalu. Setelah kasus pencurian 87 jut a data pengguna  Facebook itu terbongkar, Cambridge Analytica bankrupt dan sudah mengajukan pailit.